flash vortex

Senin, 20 Februari 2012

Jadi, Masihkah Kita tidak Mau Bersabar?

Aku bukan orang sabar
Ketika jiwa letih dengan berbagai hal yang semakin menyibukkan kita, maka berilah jeda kepada diri untuk sejenak mengkaji berbagai kesulitan yang semakin menumpuk dan memberatkan itu. Mungkin disana ada sisi kurang sabar kita dalam menghadapi sesuatu yang justru semakin merunyamkan suasana. Mungkin disana ada kelemahan jiwa kita yang menyeruak dan mengakibatkan kita bertekuk lutut dalam hasil karya diri yang justru merendahkan.  
sabar, pelajaran jiwa yang mungkin mudah di ucapkan namun sangat sulit sekali untuk di realisasikan. Namun disanalah justru letak salah satu keabadian. Cerita kebaikan yang akan abadi saat pelakunya sudah tiada, efek kebaikan yang abadi saat pelakunya masih bernafas ataupun telah berkalang tanah. Karena siapa yang dapat membunuh mati kemuliaan jiwa orang- orang yang sabar? Malah yang ada adalah, jiwa liar kita semakin lelah, dan semakin bingung disaat harus ber benturan dengan manusia yang serba sabar. selanjutnya, rasa malu dan kerendahan diri akan menjadi efek samping yang akan pasti menjadi hak milik kita. Hak milik kita, dan bukan dia. 
Bersabar adalah bukan tentang bangga mengakui bahwa kita bisa bersabar. Namun bersabar adalah tentang melatih jiwa yang angkuh mengakui kelebihan diri untuk bisa bersabar, dan legowo mengakui bahwa kesabaran dalam diri kita adalah hanya karena rahmat Allah. 
Bersabar adalah alternatif termudah dari sebuah jalan keluar bagi manusia yang tidak mampu menemukan jalan keluar. dan sabar adalah justru satu- satunya pertahanan yang paling kuat, ketika seseorang tidak mampu lagi mengatasi masalahnya. 
Bersabar adalah saham yang anda tanam di masa depan, atas sebuah nilai kemuliaan dan ketinggian derajat diri anda pribadi.
Bersabar adalah bukan tentang mengerti orang lain, namun adalah tentang memuliakan jiwa kita sendiri yang sungguh sedang liar demi mengangkat derajat kita sendiri di hadapan Allah. 
Bersabar adalah bukan hanya tentang menahan amarah, namun di dalamnya terkandung maksud untuk membengkokkan kerasnya gengsi, dan menyadari bahwa diri hanyalah seorang hamba yang harus belajar minta maaf, dan mengajarkan hati dalam luasnya memaafkan. 
Maka berbahagialah ketika masih ada dari batin kita yang berteriak protes dan mengatakan bahwa kita belumlah menjadi orang yang sabar. Hal itu berarti bahwa jiwa kebaikan masih hidup dalam diri kita. Dan mungkin sebenarnya kehendak kita sendirilah, suara kebaikan itu mati. Entah karena ketidakmauan kita menindak lanjuti "pemberitahuan" mereka, atau ketidaktahuan kita atas ilmu untuk menyikapi suara " pengumuman" tersebut. Dan maka benarlah bahwa Allah adalah maha membolak- balikkan hati, maka tidak ada yang patut untuk bermohon tentang supaya meneguhkan hati untuk mudah berkarib dengan kebaikan, kecuali hanya kepada Allah. 
Berbahagialah ketika masih sempat kita bermohon kepadanya, karena kita menyadari akan kesempatan kita yang masih ada untuk memohon. Bayangkan jika kehendak itu baru muncul setelah nafas sudah hampir lepas dari tenggorokan. Apa jadinya pula ketika permohonan itu baru melekat di mulut kita tapi setelah kita berada di alam kubur dan bertemu dengan  para malaikat? Maka jangan banyak salahkan diri anda terus menerus karena  sabar, yang pertama yang harus diterapkan justru adalah kepada diri sendiri. rasa sesal dan terpuruk tanpa ada kelanjutan untuk bangkit, hanya akan membawa kita semakin terpuruk. Namun juga jangan kasihani diri dengan terlalu, karena hal itu juga akan menjadi poin tambahan yang melembekkan jiwa dan mengikis semangat.
Bersabar adalah sama sekali bukan tentang sifat, tapi adalah tentang sebuah keputusan. Maka buatlah keputuskan anda!.
Pandai bersabar adalah juga bukan bakat, tapi logika sehat yang sangat mengerti tentang akibat.  karena sudah berapa banyak kasus ceroboh yang mempersulit diri, dan apakah harus kita lakukan lagi dan lagi karena kita kurang bersabar?
Sabar adalah hak milik pribadi yang beriman, salah satunya adalah tentang keyakinannya akan janji Allah yaitu, “Bersama setiap kesulitan, datang kemudahan”. Hal inilah yang membentuk jiwa ramah mereka untuk melihat kehidupan ini yang seharusnya akan pasti mudah, karena tidak akan ada niatan Allah untuk menyulitkan Kita.
Ketika jiwa letih dengan berbagai hal yang semakin menyibukkan kita, maka berilah jeda kepada diri untuk sejenak mengkaji berbagai kesulitan yang semakin memberatkan itu. Mungkin disana ada sisi kurang sabar kita dalam menghadapi sesuatu yang akhirnya semakin merunyamkan suasana. Atau mungkin disana ada kelemahan jiwa kita yang menyeruak dan mengakibatkan kita bertekuk lutut dalam hasil karya diri yang justru merendahkan.  
Sabar, pelajaran jiwa yang mungkin mudah di ucapkan namun sangat sulit sekali untuk di realisasikan. Namun disanalah justru letak salah satu keabadian. Cerita kebaikan yang akan abadi saat pelakunya sudah tiada, efek kebaikan yang abadi saat pelakunya masih bernafas ataupun telah berkalang tanah, dan lain sebagainya. Karena, siapakah yang dapat membunuh mati, kemuliaan jiwa orang- orang yang sabar? Malah yang ada adalah, jiwa liar kita semakin lelah, dan semakin bingung disaat harus berbenturan dengan manusia yang serba sabar. Selanjutnya, rasa malu dan kerendahan diri akan menjadi efek samping yang akan pasti menjadi hak milik kita. Menempel sebagai citra kita, dan bukan dia. 
Bersabar adalah bukan tentang bangga mengakui bahwa kita bisa bersabar. Namun bersabar adalah tentang melatih jiwa yang angkuh mengakui kelebihan diri untuk bisa bersabar, dan legowo mengakui bahwa kesabaran dalam diri kita adalah hanya karena rahmat Allah. 
Bersabar adalah alternatif termudah dari sebuah jalan keluar bagi manusia yang tidak mampu menemukan jalan keluar. Dan sabar adalah justru satu- satunya pertahanan yang paling kuat, ketika seseorang tidak mampu lagi mengatasi masalahnya. 
Bersabar adalah saham yang anda tanam di masa depan, atas sebuah nilai kemuliaan dan ketinggian derajat diri anda pribadi.
Bersabar adalah bukan tentang mengerti orang lain, namun adalah tentang memuliakan jiwa kita sendiri yang sungguh sedang liar demi mengangkat derajat kita sendiri di hadapan Allah. 
Bersabar adalah bukan hanya tentang menahan amarah, namun di dalamnya terkandung maksud untuk membengkokkan kerasnya gengsi, dan menyadari bahwa diri hanyalah seorang hamba yang harus belajar minta maaf, dan mengajarkan hati dalam luasnya memaafkan. 
Maka berbahagialah ketika masih ada dari batin kita yang berteriak protes dan mengatakan bahwa kita belumlah menjadi orang yang sabar. Hal itu berarti bahwa jiwa kebaikan masih hidup dalam diri kita. Dan mungkin sebenarnya kehendak kita sendirilah, suara kebaikan itu mati. Entah karena ketidakmauan kita menindak lanjuti "pemberitahuan" mereka, atau ketidaktahuan kita atas ilmu untuk menyikapi suara " pengumuman" tersebut. Dan maka benarlah bahwa Allah adalah maha membolak- balikkan hati, maka tidak ada yang patut untuk bermohon tentang supaya meneguhkan hati untuk mudah berkarib dengan kebaikan, kecuali hanya kepada Allah. 
Berbahagialah ketika masih sempat kita bermohon kepadanya, karena kita menyadari akan kesempatan kita yang masih ada untuk memohon. Bayangkan jika kehendak itu baru muncul setelah nafas sudah hampir lepas dari tenggorokan. Apa jadinya pula ketika permohonan itu baru melekat di mulut kita tapi setelah kita berada di alam kubur dan bertemu dengan  para malaikat? Maka jangan banyak salahkan diri anda terus menerus karena  sabar, yang pertama yang harus diterapkan justru adalah kepada diri sendiri. rasa sesal dan terpuruk tanpa ada kelanjutan untuk bangkit, hanya akan membawa kita semakin terpuruk. Namun juga jangan kasihani diri dengan terlalu, karena hal itu juga akan menjadi poin tambahan yang melembekkan jiwa dan mengikis semangat.
Bersabar adalah sama sekali bukan tentang sifat, tapi adalah tentang sebuah keputusan. Maka buatlah keputuskan!.
Pandai bersabar adalah juga bukan bakat, tapi perenungan seorang pemilik logika sehat yang sangat mengerti tentang akibat.  Karena sudah berapa banyak kasus ceroboh yang mempersulit diri, dan apakah harus kita lakukan lagi dan lagi karena kita kurang bersabar?
Sabar adalah hak milik pribadi yang beriman, salah satunya adalah tentang keyakinannya akan janji Allah yaitu, “Bersama setiap kesulitan, datang kemudahan”. Hal inilah yang kemudian membentuk jiwa ramah dalam diri kita untuk melihat kehidupan ini yang seharusnya akan pasti mudah, karena tidak akan ada niatan dari Allah untuk menyulitkan Kita. Dan sebagai hasil akhir, kedamaian pun akan selalu meliputi jiwa.
Jadi, masihkah kita tidak mau bersabar? 


Karena Aku Begitu Merindukan Surga


Terkisah seorang sahabat yang tengah menjenguk sahabat wanitanya. Sang sahabat tengah menderita penyakit parah sehingga membuatnya terbaring sakit bertahun- tahun. Tidak terhitung sudah, berapa banyak biaya dan usaha yang telah dilakukannya untuk berobat. Namun Allah belum menghendaki kesembuhan atasnya. 
Disebuah kamar sempit itu, terjadilah perbincangan yang sangat menarik. Satu hal yang menjadi penasaran sang sahabat, adalah ketika melihat raut wajah sahabatnya yang sama sekali tiada tampak kekhawatiran di wajah sahabatnya yang sedang sakit itu. Dengan penuh kehati- hatian dia bertanya, bagaimana bisa kau sangat bersabar atas musibah yang menimpamu kali ini? dan bukankah ini sudah bertahun- tahun lamanya? 
Sang sahabat yang tengah terbaring sakit itu tersenyum, dan menjawab...
Aku pernah membaca sebuah kisah, tentang seorang wanita di jaman Rasulullah. Wanita yang sangat sholihah, dan begitu merindukan syurga. Ibnu Abbas pernah berkata bahwa beliau ingin menunjukkan seorang wanita penghuni syurga kepada Atha bin Abi Rabah. Wanita itu bukanlah wanita cantik, atau dari kalangan terhormat, melainkan hanya seorang wanita hitam.
Suatu hari wanita itu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disana dia berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap, di saat penyakitku kambuh. Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’ Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’
Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu dia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi pun mendoakannya.”.
Sambil terbaring ditempat tidurnya, wanita sahabatnya itu lalu berkata" lalu apakah menurutmu aku juga tidak ingin mendapatkan surga seperti wanita itu?
Dan Allahpun berfirman bahwa “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, di dalam Al quran surat Al baqarah, ayat 153. Bagaimana pendapatmu jika kau mendapati Allah telah bersedia menjadi teman sejatimu, yang berarti itu adalah lebih baik dari pada kau miliki langit dan bumi ini, dan atau semua teman yang terbaik yang pernah ada dan pernah kau miliki?
Dengan tetap tersenyum, diapun melanjutkan...
 Aku akan tetap bertahan dalam kesabaranku, karena aku begitu merindukan syurga. Apakah kau aku tahu tentang betapa indahnya surga? aku mendengar bahwa jika seseorang telah melihatnya, maka dia akan dapat melupakan semua kesengsaraannya di dunia. Dan ya, siapa lagi yang lebih bisa aku percaya dan aku pegang janjinya selain tuhanku sendiri. Maka dari itu tak apalah jika aku harus sakit di dunia ini, aku yakin ini hanya sebentar. Saat aku nanti sembuh, maka pelajaran atas sabar dan bersyukur insyaAllah akan selalu melekat di hatiku. Tapi jika Allah berkehendak bahwa hidpku hanya sampai disini saja, maka paling tidak dengan yang aku lakukan ini, bisa menjadi sedikit harapanku untuk nanti aku mendapatkan syurga, keindahan, dan kesehatan yang abadi kelak, di sana. InsyaAllah
Sang sahabat seakan tidak percaya dan hanya tertegun mendengarnya. Ini bukanlah tentang cerita pengantar tidur, ataupun dongeng yang enak di dengar telinga. Namun, ini adalah sebuah nasehat yang datang dari sebuah hati yang kecintaannya begitu besar terhadap Allah, dan kerinduan yang sangat Atas Syurga. Dan Kedamaian kata- kata itu bukan berasal dari orang yang segar bugar, namun justru berasal dari manusia yang sedang berkesusahan. Dalam hati sang sahabat lalu berdoa, semoga Allah juga menganugrahkan hati yang begitu sabar dan pikiran positif yang sangat kuat atas apapun takdir yang diberikan oleh Allah atasnya. 
(Syahidah/Voa-islam.com)
Terkisah seorang sahabat yang tengah menjenguk sahabat wanitanya. Sang sahabat tengah menderita penyakit parah sehingga membuatnya terbaring sakit bertahun- tahun. Tidak terhitung sudah, berapa banyak biaya dan usaha yang telah dilakukannya untuk berobat. Namun Allah belum menghendaki kesembuhan atasnya. 

Disebuah kamar sempit itu, terjadilah perbincangan yang sangat menarik. Satu hal yang menjadi penasaran sang sahabat, adalah ketika melihat raut wajah sahabatnya yang sama sekali tiada tampak kekhawatiran di wajah sahabatnya yang sedang sakit itu. Dengan penuh kehati- hatian dia bertanya, bagaimana bisa kau sangat bersabar atas musibah yang menimpamu kali ini? dan bukankah ini sudah bertahun- tahun lamanya? 

Sang sahabat yang tengah terbaring sakit itu tersenyum, dan menjawab...

Aku pernah membaca sebuah kisah, tentang seorang wanita di jaman Rasulullah. Wanita yang sangat sholihah, dan begitu merindukan syurga. Ibnu Abbas pernah berkata bahwa beliau ingin menunjukkan seorang wanita penghuni syurga kepada Atha bin Abi Rabah. Wanita itu bukanlah wanita cantik, atau dari kalangan terhormat, melainkan hanya seorang wanita hitam.

Suatu hari wanita itu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disana dia berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap, di saat penyakitku kambuh. Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’ Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu dia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi pun mendoakannya.”.
Sambil terbaring ditempat tidurnya, wanita sahabatnya itu lalu berkata"Lalu apakah menurutmu aku juga tidak ingin mendapatkan surga seperti wanita itu?"
Dan Allahpun berfirman bahwa “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, di dalam Al quran surat Al baqarah, ayat 153. Bagaimana pendapatmu jika kau mendapati Allah telah bersedia menjadi teman sejatimu, yang berarti itu adalah lebih baik dari pada kau miliki langit dan bumi ini, dan atau semua teman yang terbaik yang pernah ada dan pernah kau miliki?
Dengan tetap tersenyum, diapun melanjutkan...

Aku akan tetap bertahan dalam kesabaranku, karena aku begitu merindukan syurga. Apakah kau aku tahu tentang betapa indahnya surga? aku mendengar bahwa jika seseorang telah melihatnya, maka dia akan dapat melupakan semua kesengsaraannya di dunia. Dan ya, siapa lagi yang lebih bisa aku percaya dan aku pegang janjinya selain tuhanku sendiri. Maka dari itu tak apalah jika aku harus sakit di dunia ini, aku yakin ini hanya sebentar. Saat aku nanti sembuh, maka pelajaran atas sabar dan bersyukur insyaAllah akan selalu melekat di hatiku. Tapi jika Allah berkehendak bahwa hidpku hanya sampai disini saja, maka paling tidak dengan yang aku lakukan ini, bisa menjadi sedikit harapanku untuk nanti aku mendapatkan syurga, keindahan, dan kesehatan yang abadi kelak, di sana. InsyaAllah

Sang sahabat seakan tidak percaya dan hanya tertegun mendengarnya. Ini bukanlah tentang cerita pengantar tidur, ataupun dongeng yang enak di dengar telinga. Namun, ini adalah sebuah nasehat yang datang dari sebuah hati yang kecintaannya begitu besar terhadap Allah, dan kerinduan yang sangat Atas Syurga. Dan Kedamaian kata- kata itu bukan berasal dari orang yang segar bugar, namun justru berasal dari manusia yang sedang berkesusahan. Dalam hati sang sahabat lalu berdoa, semoga Allah juga menganugrahkan hati yang begitu sabar dan pikiran positif yang sangat kuat atas apapun takdir yang diberikan oleh Allah atasnya.

..**Para Perempuan Cemerlang dalam Peradaban Islam **..


Panggung peradaban Islam, tak hanya dominasi laki-laki. Perempuan, muncul pula memberikan kontribusi. Mereka, menunjukkan kecemerlangan pemikirannya dalam beragam bidang. Hal ini, telah bermula sejak zaman Nabi Muhammad dan para sahabatnya saat merintis masyarakat berperadaban.
Salim T S Al Hassani, profesor emiritus di University of Manchester, Inggris, dalam tulisannya, 'Women's Contribution to Classical Islamic Civilisation: Science, Medicine and Politics', menyatakan, selain dalam bidang agama mereka juga berkiprah di bidang ilmu pengetahuan. Sejumlah perempuan memiliki kemampuan dalam bidang medis

Kemunculan mereka terkadang dipicu oleh suatu peristiwa peperangan yang tak terelakkan. Di antara mereka ada Rufayda Al Aslamiyyah, yang mengawali kariernya merawat para tentara terluka. Ada pula nama-nama lainnya, yang menguasai matematika.

Rufayda al-Aslamiyyah
Perempuan ini sering pula dipanggil dengan nama Rufayda binti Sa'ad. Ia dianggap sebagai perawat pertama dalam lintasan sejarah Islam, yang hidup pada zaman Nabi Muhammad.
Dalam Perang Badar pada 13 Maret 624 Hijriyah, ia bertugas merawat mereka yang terluka dan mengurus personel yang meninggal dunia.
Rufayda belajar pengetahuan medis dari ayahnya, Saad Al Aslamy, yang juga seorang dokter. Ia sering membantu ayahnya mengobati pasien. Pada akhirnya, ia yang sarat pengalaman mengabdikan diri dalam bidang yang dikuasainya. Ia mewujud menjadi seseorang yang andal dalam bidangnya.

Dalam praktiknya, ia sering menjalankan keahliannya di rumah sakit lapangan berbentuk sebuah tenda. Saat itu, Nabi Muhammad memerintahkan untuk membawa anggota pasukan yang terluka ke rumah sakit lapangan tersebut. Selain kepandaian dalam bidang medis, Rufayda dikenal sebagai sosok yang empatik.
Tak hanya itu, Rufayda merupakan seorang organisatoris yang baik pula. Ia aktif mengajarkan keahliannya kepada perempuan lainnya dan menjadi seorang pekerja sosial. Biasanya, ia membantu memecahkan masalah-masalah sosial yang terkait dengan penyakit.

Shifa binti Abdullah
Lalu, muncul pula nama lain, Al Shifa binti Abdullah al Qurashiyah al'Adawiyah. Nama lain yang lekat pada dirinya adalah Laila. Kepiawaianya dalam bidang medis ditopang oleh kemampuannya dalam membaca. Sebab, saat itu banyak orang buta huruf dan tentu tak bisa mengakses pengetahuan.
Layaknya Rufayda, Al Shifa tak pelit dengan ilmu yang dimilikinya. Ia menebar ilmu medis yang ia kuasainya, meski dalam hal yang sangat sederhana. Misalnya, pengobatan terhadap gigitan semut. Kemudian, Rasulullah SAW memintanya untuk mengajarkan hal itu kepada perempuan lainnya.
Al Shifa pun multitalenta. Ia tak hanya dominan pada bidang medis. Namun, ia pun sangat terampil dalam administrasi publik dan dikenal dengan kebijaksanaannya.

Nusayba binti Harith
Nusayba binti Harith Al Ansari hadir sebagai sosok lain. Ia merawat para prajurit terluka. Ia juga seorang tabib khitan. Masa pun berjalan. Pada abad ke-15, seorang ahli bedah dari Turki, Serefeddin Sabuncuoglu (1385-1468), penulis karya tentang bedah, Cerrahiyyetu'l-Haniyye. Dia tak ragu menggambarkan secara terinci mengenai prosedur gineologi atau menggambarkan perawatan terhadap pasien perempuan.
Bukan hanya menggambarkan, namun Sabuncuoglu pun bekerja dengan para ahli bedah perempuan. Saat itu, dikabarkan rekan-rekannya di dunia Barat, malah menentang bekerja sama dengan para perempuan. Bahkan, dalam bukunya, ia menggambarkan bagaimana para ahli bedah perempuan menjalankan pekerjaannya.

Sutayta Al-Mahamli
Pakar matematika ini hidup pada paruh kedua abad ke-10. Ia berasal dari keluarga berpendidikan tinggi di Baghdad, Irak. Ayahnya, Abu Abdallah Al Hussein, menjabat sebagai seorang hakim yang juga penulis sejumlah buku, termasuk Kitab fi Al Fiqh dan Salat Al'idayn.
Sang ayah tak memandang sebelah mata Sutayta yang berjenis kelamin perempuan itu. Ia mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anaknya, bahkan mendatangkan sejumlah guru. Banyak hal yang diajarkan namun Sutayta terpikat hatinya pada matematika.
Sejumlah cendekiawan yang pernah menjadi gurunya adalah Abu Hamza bin Qasim, Omar bin Abdul-'Aziz Al Hashimi, Ismail bin Al Abbas Al Warraq, dan AbdulAlghafir bin Salamah Al Homsi. Sejumlah sejarawan, Ibnu Al Jawzi, Ibnu Al Khatib Baghdadi, dan Ibnu Katsir, memuji kemampuan Sutayta dalam matematika. Sutayta sangat menguasai hisab atau aritmatika dan perhitungan waris.
Kedua cabang matematika tersebut berkembang dengan baik di zamannya. Dalam aljabar, ia berhasil menemukan sebuah persamaan yang pada masa selanjutnya, sering dikutip oleh pakar matematika lainnya.
Bidang ilmu lain yang juga dikuasainya adalah sastra Arab, ilmu hadis, dan hukum. Setelah lama bergelut dengan angka dan memberikan kontribusinya dalam bangunan peradaban Islam, akhirnya Allah SWT memanggilnya. Ia mengembuskan napas terakhir pada 987 Masehi.

Labana dari Kordoba
Pada masa pemerintahan Islam, Kordoba menjadi salah satu pusat peradaban. Kota ini, bahkan menjadi salah satu lumbung orang-orang berotak cerdas. Salah satunya adalah perempuan yang bernama Labana. Matematika menjadi bidang kajian yang ia kuasai.
Labana dikenal dengan kemampuannya menyelesaikan beragam masalah matematika yang sangat pelik, baik aritmatika, geometri, maupun aljabar. Saat itu, tak banyak ilmuwan laki-laki yang mampu memecahkan masalah sepelik itu. Melalui kecerdasannya, ia menuai buah manis. Ia menjadi pegawai pemerintah.

Labana menjadi sekretaris Khalifah Al Hakam II dari Dinasti Bani Ummayah. Jatuhnya jabatan sekretaris ke tangan Labana, menunjukkan khalifah tak mempetimbangkan jenis kelamin. Namun, ia lebih mementingkan kepandaian dan kemampuan yang dimiliki Labana.
Pada masa itu, sejumlah perempuan bernasib sama dengan Labana. Para perempuan yang menguasai suatu bidang, akan mendapatkan penghargaan tinggi dari pemerintah. Kalau memang bersedia, para perempuan itu mendapatkan posisi di pemerintahan.

262947_10150255826085658_175817530657_8095505_2730518_n.jpg (720×540)

..**Bukan Segalanya**..


Oleh : Arief B Iskandar


Sesungguhnya uang bukanlah segalanya. Tentu bukan karena sekarang sudah ada master card, visa atau kartu kredit lainnya, juga bukan karena orang saat ini bisa melakukan berbagai macam transaksi elektronik lainnya tanpa harus punya uang tunai.

Memang, uang bukan segalanya. Sebab faktanya, uang tidak bisa membeli segalanya. Dengan uang manusia memang bisa membeli segala macam kemewahan, namun tidak keberkahan dan kebahagiaan. Dengan uang manusia mampu membeli kedudukan dan jabatan, tetapi tidak kewibawaan dan kehormatan. Dengan uang manusia memang sanggup memiliki wanita impian dan anak-anak harapan, tetapi tidak ke-sakinah-an, ke-mawadah-an dan ke-rahmah-an. Dengan uang manusia memang dapat bersenang-senang di dunia, tetapi tidak kebahagiaan hakiki di akhirat.

Dengan uang manusia?saat sakit?memang bisa membeli obat dan dirawat di rumah sakit berkelas dengan pelayanan yang ekstra memuaskan, namun tak mungkin mampu membeli kesehatan. Dengan uang manusia memang bisa membeli kecantikan dengan operasi plastik yang super canggih, namun tidak akan sanggup membeli umur yang panjang. Dengan uang manusia bisa merawat tubuh dan wajah hingga tetap tampil awet muda, tetapi ia tak akan pernah bisa mengembalikan masa mudanya. Dengan uang manusia memang bisa membeli jam tangan super mewah bertahtakan berlian berharga, miliaran, tetapi tidak mungkin sanggup membeli waktu meski hanya sedetik, Dengan uang seorang Muslim bisa berhaji berkali-kali, namun tidak kemabrurannya.

Dengan uang bahkan seorang aktivis dakwah dapat cukup hanya menginfakkan sebagian kecil—atau setengah, bahkan mungkin sebagian besar?hartanya di jalan dakwah, tetapi tentu hal itu tidak bisa dijadikan sebagai kompensasi dari dakwahnya. Dakwah tetaplah kewajiban yang tidak bisa digantikan dengan uang. Bahkan sesungguhnya tidak ada kafarat bagi amalan dakwah yang ditinggalkan. Itulah mengapa, walau Abu Bakar ash-Shiddiq ra., Utsman bin Affan ra., Abdurrahman bin Auf ra., Mush'ab bin Umair ra. adalah di antara sebagian Sahabat yang banyak harta, mereka tetaplah para pengemban dakwah dan pembela Islam garda depan. Bahkan harta dan kemewahan mereka gadaikan semata-mata untuk dakwah. Sebelum maupun setelah berdirinya Daulah Islam, Abu Bakar ashShiddiq ra. dan Utsman bin Affan ra. dikenal sebagai aghniya' yang menghabiskan sebagian besar hartanya untuk kepentingan dakwah dan jihad ihad fi sabilillah. Sebelum maupun setelah berdirinya Daulah Islam. Abdurrahman bin Auf ra- juga mengorbankan sebagian besar hartanya untuk kepentingan dakwah dan jihad fi sabilillah. Adapun Mush'ab bin Umair ra. yang terkenal sebagai pemuda kaya-raya dan tampan, sebelum berdirinya Daulah Islam ia meninggalkan segala kemewahan hidupnya. Itu terus berlangsung hingga pada saat meninggal dunia, pada masa berdirinya Daulah Islam, Ia hanya meninggalkan sehelai kain yang bahkan tak cukup untuk sekadar dijadikan kafannya. Padahal, sebelum masuk Islam, ayahnya dengan entengnya pernah membelikan bagi dirinya sehelai baju seharga 200 dirham atau setara dengan Rp 14 jutaan! ( 1 dirham = 2.975 gr perak murni = Rp 70.379,-. Sumber: Geraidinar.com, 19/5/2011, pk. 06.30).

Namun memang, sebagaimana kata sebagian orang, tanpa uang kita tak bisa meraih segalanya. Makan-minum butuh uang. Berpakaian butuh uang. Untuk punya rumah butuh uang. Sehat butuh uang. Sekolah butuh uang. Apalagi dalam sistem kapitalis saat ini. Tanpa uang kita bahkan tak bisa beribadah, paling tidak untuk membeli pakaian yang dapat menutup aurat kita. Tanpa uang, kita pun tak bisa berdakwah yang sering membutuhkan dana tak sedikit. Demikian seterusnya. Tentu di sini semuanya sepakat. tak perlu ada perdebatan.

Namun, semesta pembicaraan dalam tulisan ini bukanlah itu. Melalui tulisan ringan ini, saya hanya ingin kita semua merenung, bahwa manusia sering lupa dan khilaf, meski uang bukan segalanya, tak jarang sebagian besar pikiran, energi dan waktu mereka hanya difokuskan untuk mencari dan mengumpulkan uang. Ada yang setiap hari, selama puluhan tahun. sebagian dari umurnya dihabiskan untuk bekerja dengan berangkat dini hari dan baru pulang larut malam, demi mencari uang. Hari libur pun dijadikan sekadar untuk menghilangkan kepenatan sesaat selepas bekerja demi uang. Tak jarang, ibadah kepada Allah SWT dan urusan agama terlupakan, apalagi urusan memikirkan umat dan perkara dakwah, tak ada dalam catatan hariannya.

Bagaimana dengan kita yang telah memposisikan diri sebagai pengemban dakwah? Sejatinya, saat sudah sering diteguhkan dalam diri kita bahwa dakwah adalah "poros hidup" kita, maka idealnya yang menjadi fokus kita dalam hidup ini adalah dakwah. Bukan berarti urusan nafkah atau uang tidak penting. Namun, jangan sampai urusan nafkah melalaikan urusan dakwah. jangan sampai berbicara tentang uang dan urusan mengejar kekayaan lebih banyak daripada membincangkan urusan dakwah serta aktivitas menegakkan syariah dan Khilafah. Jangan sampai pula, karena itu, kita lebih dikenal sebagai pemburu harta dan kekayaan daripada dikenal sebagai pejuang syariah dan Khilafah. Pun demikian, bagi para pengemban dakwah yang secara ekonomi kekurangan. jangan pula mencari penghidupan atau ma'isyah melupakan urusan dakwah. Singkatnya, jangan sampai urusan mencari "sesuap nasi" atau urusan "menambah cabang usaha warung nasi" melenakan kita dari urusan dakwah ini. Tegasnya, jangan sampai kekayaan kita ataupun kemiskinan kita—melalaikan kita dari urusan agama dan perjuangan yang amat mulia ini, jika itu yang terjadi, sesungguhnya kita lebih mencintai semua itu ketimbang Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT sendiri telah menyatakan demikian dalam al-Quran (yang artinya): jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian. harta kekayaan yang kalion usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rosul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik (QS at-Taubah [9]: 24).

Semoga kita bukan termasuk yang demikian. Wama tawfiqi illa bilLah.

.**Pancasila Bukan Ideologi**..

.**Pancasila Bukan Ideologi**..

Pancasila hanya sebagai set of phylosophi (seperangkat gagasan filosofis) bukan sebagai ideologi. Sebab, kalau ideologi mengandung dua unsur penting yang pertama pemikiran menyeluruh terhadap alam semesta, kehidupan dan manusia. Dan kedua, darinya lahirlah sistem. Inilah yang tidak dimiliki oleh Pancasila dan hanya sebagai perangkat falsafah.
Hal ini dijelaskan oleh Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto saat menjadi pembicara dalam diskusi dan bedah buku Pancasila 1 juni dan syariah Islam karya Prof. Dr. Hamka Haq, M.A. Rabu (10/08) di Mega Institute Jakarta.

Ismail menjelaskan bahwa pada faktanya rumusan seperti ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang beradap dan seterusnya. Itu merupakan rumusan filosofis tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan hanya sebagai filosofi bukan ideologi.
“maka falsafah-falsafah itu sesungguhnya hanya falsafah-falsafah biasa. Dia mengandung nilai-nilai apa yang dirumuskannya. Ketuhanan yang maha esa kalau dikatakan apakah itu sesuai dengan islam, ya tentu saja kecuali kalau bunyinya ketuhanan maha dua, ” ujarnya.
“Nah pada level filosofi sesungguhnya ini bisa ditarik kemana-mana. Kalau ditanya sesuai dengan islam ya sesuai-sesuai saja. Sesuai dalam arti bahwa hanya sebatas nilai-nilai filosofi itu ada pada islam,” terangnya.

Mengomentari tentang buku Pancasila 1 juni dan Syariah Islam karya Prof. Dr. Hamka Haq, M.A. Ismail Yusanto mengatakan bahwa buku ini lebih pada ke ayatisasi Pancasila.
“Pancasila tidak cukup untuk mengatur masyarakat kita, sebab pancasila tidak menyentuh pada tataran sistem. Dan Islam sangat beda dengan pancasila sebab Islam lebih luas dari falsafah-falsafah yang ada pada pancasila,” jelasnya.
Dalam diskusi dan bedah buku ini, hadir juga sebagai pembicara Habib Muhsin Alatas (FPI) dan Abdul Moqsith (JIL).[]fatih mujahid/Media Umat [HTI-Press]

Bahagia Dalam Diri Adalah...



Menjadi bahagia, bukanlah karena sikap orang lain yang menyenangkan atau menyakiti kita. Tetapi menjadi bahagia adalah karena pilihan kita sendiri untuk menjadi bahagia.
Menjadi bahagia adalah tentang bagaimana kita mensetting hati, pikiran dan laku dan keseharian kita, dan semua itu adalah terletak diatas keinginan dan kemauan kita sendiri.
Ketika definisi tentang bahagia kita letakkan dengan cara banyak menguliti orang lain dan meminta mereka bersikap begini dan begitu, yang tentunya mengharuskan mereka mengikuti apa yang kita mau, saat itulah sebenarnya kekurangan adalah menjadi milik kita dan bukan mereka.
Betapa tidak, dalam menyusun rencana pembahagiaan diri kita tersebut, maka harus dihadirkan adanya sikap memaksa, tak jarang malah berakhir dengan konflik. Padahal dengan bersabar, hal itulah yang bukan hanya menjadikan kita lebih bahagia, tapi sekaligus memberi peluang kita untuk lebih mulia.
Lalu, apakah ada kebahagiaan dalam kesabaran? Tentu saja ada. Seseorang yang beriman kepada Allah, akan selalu bahagia dalam sabarnya. Hal ini wajar, karena pikirannya akan tertuju kepada nikmat pahala dan kebahagiaan akherat yang pasti Allah berikan sebagai balasannya. Dan sekali lagi, hal ini hanya berlaku hanya untuk para hati yang benar- benar beriman kepada Allah.
Selanjutnya, dalam kesabaranpun juga terkandung kebahagiaan yang lain. Seperti kata pepatah, bahkan batupun bisa akan berlubang jika ditetesi air secara terus menerus. Garis hidup yang memang tidak mudah di lalui pada awalnya dengan sikap yang bernama sabar, namun di episode akhir, InsyaAllah kita akan berhasil mengubah seseorang, yang tanpa sadar justru akan mencontoh banyak hal baik yang telah kita lakukan, hanya karena kita mampu bersabar.  Dan adalah sebuah kepastian bagi siapapun yang akhirnya menemui dirinya di masa depan menjadi pribadi yang disegani dihadapan kawan maupun lawan.
Selain itu, ada sebagian orang yang mampu untuk bahagia dengan mensyaratkan ini dan itu kepada dirinya sendiri dan orang lain, dimana semua itu seakan melampaui batas kewajaran. Atau dalam kata lain, tiada rasa syukur dalam kamus hidupnya. Dan apakah sebenarnya dia bahagia ketiika telah terpenuhi segala yang dia inginkan ?. Mungkin tidak. Karena yang ada, bahkan sebenarnya dia menjadikan hidup yang sekali kali nya ini, menjadi budak dari ambisinya yang tiada habis dan dan tidak ada ujungnya.
Nafsunya merongrong terus tanpa batas dan waktu. Sungguh, sebenarnya dia adalah orang yang paling sengsara, banyak tertipu dan paling pantas dikasihani. Dan tidak mustahil, justru bahkan dalam akhir kisah hidupnya, dia belum sempat menikmati kebahagiaan yang hakiki, yaitu berada dekat Allah subhanahu wataala, karena jatah hidupnya sudah habis untuk keperluan nafsunya sendiri. Padahal ketika maut telah merenggutnyapun, dunia yang selama ini di belanya, tidak serta merta akan mati dan mengikutinya, kecuali meninggalkannya dan hanya mengingatnya dalam nama "kenangan". 
Maka jadilah pahlawan bagi diri sendiri, yaitu yang mampu mengangkat derajat diri sendiri lewat kesabaran, dan hadiahi diri kita selalu dengan sebuah rasa syukur kepada Allah. Sungguh, orang yang damai dan bahagia dengan dirinya, sesungguhnya tidak memerlukan apa- apa lagi, Kecuali Allah, yang Maha membantu dalam menyelesaikan masalahnya, dan selalu akan menyertai hari- harinya. Dan dengan begitu, bisa disimpulkan pula, bahwa dia telah menjadi pemimpin terbaik atas dirinya, yaitu dengan menyandarkan pilihan dan keluh kesahnya dengan yang Maha Menyelesaikan, saja.  Dan ketika kita sudah merasa memiliki dan begitu dekat dengan Allah, maka semudah itu kita akan mutuskan, ternyata gampang mendapatkan sebuah bahagia.ideasmarts.blogspot.com

Di Balik Hari Perayaan Cinta



ideasmarts.blogspot.com 

Tanggal 14 Februari selalu di identikan dengan hari spesial bagi orang yang tengah jatuh cinta, atau kasmaran. Hari ini biasa disebut sebagai hari kasih sayang, yang terkenal di kalangan anak muda di sebut dengan “Valentine Day”, yaitu hari dimana orang secara terbuka (baca : bebas) mengungkapkan rasa sayang dan cinta lewat berbagai cara, baik itu rayuan gombal atau kata mutiara cinta, ditambah lagi hadiah coklat, bunga, boneka dan sebagainya.
Sebenarnya,valentine day itu berasal dari jaman Yunano Kuno. Dan disana, bulan februari memang biasa diidentikkan dengan hari penghormatan terhadap pernikahan dewa mereka, yaitu Dewa Zeus dengan Hera. Itulah mengapa pada pertengahan Februari selalu dilakukan pesta pora memeriahkan hari kasih sayang para dewa mereka.
Kata "Valentine Day" itu sendiri baru tersebutkan secara tertulis di abad pertengahan (sekitar abad 14) lewat tulisan sastra Geoffrey Chaucer di abad ke-14 yang berjudul “Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung)” :
"For this was sent on Seynt Valentyne's day
When every foul cometh there to choose his mate"
Nah, hal yang tidak ketinggalan di "hari perayaan cinta" adalah Cupid. Cupid atau dalam bahasa latinnya di sebut Amor, atau Eros, dan dalam bahasa Inggris juga biasa disebut sebagai The Desire (yang memiliki arti sebagai ‘hasrat’, ‘nafsu’, atau ‘syahwat’). Cupid biasa digambarkan sebagai sosok bayi montok nan rupawan dan bersayap dengan panah di tangannya. Namun ada pula penggambaran Cupid sebagai seorang lelaki rupawan yang bersayap. Hanya saja,dalam bentuk yang masih bayi ato dewasa sekalipun, si Cupid ini tetap aja digambarkan tanpa memakai baju alias bugil. Bisa jadi, inilah pesan asli dari yang mereka sebut sebut sebagai “Cinta” yaitu sesungguhnya adalah “Hasrat atau Nafsu syahwat”.
Sosok Cupid yang juga punya sayap dan busur yang di taruh di atas atau di bawah tulisan: “Be My Valentine’s…” . Dalam kepercayaan pagan, Cupid merupakan anak dari Nimrod ‘The Hunter’ alias Dewa Matahari (Raja Namrudz) dengan Dewi Aphrodite, Sang Dewi Kecantikan yang popular dengan sebutan Dewi Venus. Bahkan dalam mitologi  di kisahkan kalau ibu kandungnya pun tertarik secara seksual dengan cupid dan melakukan perzinaan dengan anaknya sendiri!. Naudzubillah. Dan ternyata, hal seperti itu dianggap sesuatu yang lumrah di masyarakat pagan Roma.
Cupid atau Eros ini dianggap sebagai Dewa atau Tuhan Cinta, karena raganya yang sangat rupawan, maka dari itu tidaklah heran jika dalam mitologi Yunani dan Roma Kuno, kesempurnaan ragawi dan juga syahwat  memang sangat diagungkan. Para dewa dewi yang mereka sembah, simbolnya pastilah dalam bentuk sosok manusia, laki-laki dan perempuan, yang dianggap sempurna tubuh dan juga kecantikan maupun ketampanannya. Jika seorang dewi maka mereka disimbolisasikan dalam ribuan patung dan juga lukisan, sebagai seorang perempuan muda yang cantik, memiliki tubuh yang menggoda, dan mempunyai hasrat yang bergelora. Ini sama dengan penggambaran mereka tentang para dewanya, yang digambarkan sebagai seorang laki-laki perkasa, rupawan, dan juga sama-sama menyimpan hasrat yang dahsyat.
Naudzubillah...
Dan begitulah sekilas tentang Valentine Day dan sekutu- sekutunya, yang seharusnya kita ketahui. Sebenarnya, Hari Valentine tidak akan semeriah ini jika tidak ada tangan dingin dari para pebisnis. Dengan kata lain, banyak pebisnis yang seharusnya menjadi penanggung jawab atas kelestarian budaya ini. Seperti yang kita ketahui bersama, para pebisnis selalu mencari celah untuk mendapatkan keuntungan. Nah, Celah ini  termasuk juga perayaan-perayaan keagamaan, yang oleh mereka dijadikan juga sebagai ‘perayaan bisnis’. Uang yang jadi tujuan akhir mereka mengalir deras lewat pembelian kartu ucapan, bahkan di dunia Barat sendiri, bisnis kartu ucapan pada hari Valentine mencapai rekor tertinggi setelah Hari Natal. Kebanyakan yang membeli kartu ucapan Valentine adalah perempuan yang mencapai prosentase lebih dari 80%. Ini belum termasuk penjualan bunga, media massa, coklat, dan sebagainya. Lalu, masihkah ada kepedulian mereka bahwa perayaan ini juga adalah yang termasuk yang merusak moral dan kemanusiaan?.

..**Mari Perkuat Keyakinan Kita akan Janji Allah**..


Oleh: Agus Trisa
 

Allah swt. berfirman,
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur: 55)

Rasulullah saw. bersabda,
“Dahulu, urusannya bani Israil diatur oleh para Nabi. Setiap kali Nabi tersebut meninggal (binasa) seketika digantikan oleh Nabi lainnya. Sesungguhnya tidak ada lagi Nabi sesudahku. Dan kelak (sepeninggalku yang mengatur/memelihara) adalah para Khulafa yang jumlah mereka itu banyak. Ditanyakan (oleh para sahabat): ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Dijawab: ‘Bai’atlah (Khalifah) yang pertama dan yang pertama. Dan serahkanlah kepada mereka hak-hak mereka, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka atas apa yang menjadi urusan (dan tanggung jawab) mereka’.” (HR. Muslim)

Perjuangan penegakan khilafah, memang sangat sulit. Perjuangan menegakkan kembali khilafah rasyidah tidak akan terlepas dari berbagai tantangan, rintangan, hambatan, dan ancaman yang setiap saat datang di hadapan kita. Namun demikian, kita tidak boleh berputus asa dan menjadi orang-orang yang terbeli dalam perjuangan ini. Kita tidak boleh berputus asa, sekali pun kaum kafir dan orang-orang sekuler berusaha membeli kita dan menghalangi jalan kita. Sekali lagi, kita tidak boleh terbeli.

Khilafah adalah sebuah cita-cita besar yang harus diperjuangkan, karena dengan itu kaum muslimin akan meraih kemuliaan, hudud ditegakkan, syariat diterapkan, jihad untuk dakwah dilangsungkan, dan berbagai kebaikan-kebaikan akan disebar ke seluruh penjuru bumi. Semakin besar cita-cita yang kita perjuangkan, maka hambatan, rintangan, tantangan, serta ancaman yang datang pun akan semakin besar. Oleh karena itulah dibutuhkan keyakinan yang kuat untuk bisa memperkokoh semangat itu hingga berbagai penghalang tidak akan mudah menembus jantung-jantung perjuangan para pejuang.

Lemahnya semangat para pejuang, bisa jadi disebabkan oleh sikap mereka yang mungkin tidak yakin atas apa yang diperjuangkan dan metode yang dijalankan. Bisa jadi, para pejuang itu lemah, karena mereka tidak yakin bahwa kemuliaan Islam itu hanya dengan tegaknya negara khilafah Islam. Bisa jadi pula, para pejuang itu lemah, karena mereka memang tidak yakin dengan metode perjuangan yang sedang dijalaninya. Lemahnya semangat pejuang, juga karena mereka merasa sempit rezekinya. Mereka merasa penghidupan mereka sulit jika menjadi seorang pejuang. Sehingga mereka pun mudah berputus asa dan mudah terbeli atas kondisi yang ada.

Kita harus menyadari bersama bahwa sulitnya perjuangan, tidak ada kaitannya dengan ‘keberadaan’ sesuatu yang ingin diraih. Menjadi juara kelas, itu memang tidak mudah. Tetapi bukan hal yang tidak mungkin untuk diwujudkan. Lihatlah orang-orang di sekeliling kita. Untuk bisa duduk di kursi parlemen, memang sangat sulit. Tetapi bukan berarti tidak bisa. Semua tinggal usahanya. Ada yang menyogok sana sini, ada pula yang money politics. Untuk menjadi partai pemenang pemilu yang menguasai legislatif, memang sangat sulit. Tetapi bukan tidak mungkin diwujudkan. Mungkin dengan merekrut orang kafir, menanggalkan ideologi, dan menjadi partai terbuka, akan membantu hal tersebut. Jadi, segala sesuatu yang sulit dicapai, belum tentu sesuatu itu tidak bisa diraih, apalagi dikatakan mustahil atau dikatakan tidak ada.

Jika kita berbicara tentang negara khilafah, sebuah cita-cita besar kaum muslimin, maka hal ini pun tidak akan terlepas dari berbagai kesulitan yang datang menghadang. Tetapi bukan berarti perjuangan ke arah sana kemudian dikatakan tidak bisa atau mustahil. Jika kita memang yakin bahwa kemudian Islam dan kaum muslimin hanya dengan tegaknya khilafah, maka kita pasti akan memiliki usaha untuk menuju ke sana.

Misalnya Kakbah. Apakah Anda pernah melihat Kakbah secara langsung? Mungkin di antara Anda, sudah pernah ada yang pergi ke Makkah untuk berbagai tujuan, haji, umrah, study, atau bisnis. Maka Anda akan bisa melihat Kakbah secara langsung. Tetapi bagaimana dengan Anda yang belum pernah pergi ke sana? Mengapa Anda begitu yakin bahwa Kakbah itu benar-benar ada, sedangkan Anda tidak melihatnya dengan mata Anda sendiri?

Ya, kita memang yakin dengan seyakin-yakinnya. Saya termasuk orang yang yakin 100% bahwa Kakbah benar-benar ada, sekali pun saya belum pernah melihatnya secara langsung. Keyakinan kita (saya), itu lebih didasarkan pada datangnya kabar kepada kita tentang Kakbah secara mutawatir. Jutaan orang yang datang berhaji atau orang yang telah melakukan Umrah di Makkah, telah menyaksikan sendiri Kakbah secara langsung. Mereka berasal dari seluruh penjuru dunia, dengan berbeda suku, bahasa, ras, warna kulit, dan lain sebagainya. Mereka tidak saling kenal. Kalaupun ada, itu hanya beberapa.

Jutaan orang yang tidak saling kenal itu secara langsung mereka melihat wujud Kakbah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Mereka melihat wujudnya seperti kubus, dengan ditutup kain warna hitam. Di Kakbah juga ada Hajar Aswad, dan lain-lain yang menunjukkan ciri-ciri Kakbah. Jutaan orang itu melihat secara langsung dengan indra penglihatan mereka sendiri.

Pertanyaannya: mungkinkah orang yang sedemikian banyak dan tidak saling kenal itu bersepakat untuk berdusta atau berbohong tentang Kakbah? Apakah menurut Anda mungkin terjadi, mereka yang berhaji atau yang berumrah itu membuat kesepakatan untuk menceritakan yang tidak-tidak tentang Kakbah? Misalnya, Kakbah itu berbentuk bola, dengan kain penutup berwarna emas, dan ada cahaya lampu di atasnya. Mungkinkah demikian? Jelas tidak mungkin. Sebab, di antara mereka tidak ada yang saling mengenal. Namun kalau pun ada orang yang berdusta tentang Kakbah, tentu orang lain yang juga pernah naik haji pasti akan membantahnya habis-habisan.

Orang Islam yang berasal dari Indonesia, akan mengatakan yang sama (tentang Kakbah), dengan orang Islam dari Palestina. Orang Islam dari Malaysia, akan mengatakan sesuatu yang sama pula dengan yang dikatakan orang Islam dari Mesir. Orang Islam Amerika yang berhaji ke Makkah juga akan mengatakan sesuatu yang sama tentang Kakbah, sama persis dengan yang dikatakan rombongan haji dari Afrika. Semua sama. Begitu juga, ketika tetangga kita berangkat berhaji, kemudian kita diceritakan tentang Kakbah, hal itu sama dengan yang diceritakan oleh orang lain. Mungkin Anda memiliki saudara yang juga pernah naik haji. Apa yang dikatakan saudara Anda tentang Kakbah, pasti juga akan sama dengan apa yang dikatakan tetangga Anda. Padahal tetangga Anda dan saudara Anda tidak saling mengenal. Demikianlah.. Keyakinan kita dibangun oleh suatu kabar yang mutawatir, yang benar-benar tidak akan pernah bisa disangkal. Dari semua ini, kita akan mengatakan bahwa Kakbah: pasti ada!

Kemudian, jika kita sudah yakin bahwa Kakbah benar-benar ada, lalu berpikir, bagaimana jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke Kakbah? Jika demikian, maka kita akan bisa menemukan banyak sekali jalan untuk bisa sampai ke Kakbah. Tinggal kita mau memilih jalan yang mana.

Misalnya, kita mau pergi ke Makkah untuk naik haji dan bisa menemukan Kakbah, maka kita mengikuti jalan yang ditempuh oleh Pak Ahmad. Jika kita benar-benar mengikuti dan menyusuri jalan Pak Ahmad, maka kita akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan sebagaimana pengalaman dan pemandangan yang didapati Pak Ahmad. Mungkin Pak Ahmad pergi ke naik haji dengan Shafa Karima Tour, kemudian Pak Ahmad juga harus pergi ke Bandara Soekarno-Hatta terlebih dahulu, di sana ada bandara internasional yang besar, di bandara itu Pak Ahmad melihat hotel-hotel dan berbagai penginapan, Pak Ahmad pergi ke Makkah dengan pesawat Mandala Airlines, dan Pak Ahmad juga berbagai pelayanan-pelayanan yang memadai.

Jika kita memang benar-benar mengikuti dan menyusuri jalan yang ditempuh oleh Pak Ahmad, maka kita pun akan menjumpai berbagai pemandangan dan pengalaman sebagaimana yang dijumpai Pak Ahmad. Kita pergi haji harus dengan Shafa Karima Tour, bukan yang lain. Kita juga harus pergi ke Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, bukan Adi Sumarmo di Solo, Adi Sucipto di Yogyakarta, Polonia di medan, Husein Sastranegara di Jawa Barat, atau yang lain selain Soekarno-Hatta. Dengan begitu kita juga akan mendapati pemandangan sebagaimana pemandangan yang dijumpai Pak Ahmad, misalnya di bandara, kita melihat hotel-hotel dan berbagai macam penginapan. Sama persis seperti yang dijumpai Pak Ahmad. Selain itu kita juga harus memakai maskapai Mandala Airlines, bukan Simpati, Qantas, atau Garuda Indonesia. Di sana kita juga akan mendapatkan berbagai pelayanan-pelayanan yang memadai seperti yang dirasakan Pak Ahmad. Sekalipun saat itu, Anda sedang tidak bersama Pak Ahmad.

Tetapi jika Anda melenceng sedikit saja dari jalan yang dilalui Pak Ahmad, maka Anda tidak akan menjumpai pemandangan dan pengalaman seperti yang dijumpai Pak Ahmad. Misalnya, Anda memakai Maskapai Garuda Indonesia. Ini sudah berbeda. Pasti yang Anda jumpai, akan berbeda dengan yang dijumpai Pak Ahmad. Atau Anda tidak memakai biro haji Shafa Karima, tetapi memakai biro lain seperti Darul Safar, atau Mulya Syifa’, atau yang lain. Pasti pelayanan yang Anda dapatkan juga tidak sama seperti yang didapatkan Pak Ahmad. Sehingga, dengan sedikit saja kita melenceng dari perjalanan Pak Ahmad, kita pasti akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan yang berbeda, sekali pun Anda juga akan tetap sampai ke Makkah dan melihat Kakbah. Tetapi sekali lagi, Anda tidak melalui jalan yang ditempuh Pak Ahmad.

Apa yang saya gambarkan di atas, sama seperti keyakinan kita akan tegaknya kembali Khilafah Islam dengan metode penegakkan seperti metode Rasulullah.

Jika Anda memang yakin, bahwa kemuliaan Islam dan kaum muslimin hanya dengan tegaknya negara khilafah Islam, maka konsekuensi logis dari itu semua adalah adanya kesadaran untuk berjuang mewujudkannya. Kita yakin bahwa khilafah memang sudah pernah berdiri, hal ini secara mutawatir diriwayatkan oleh banyak sekali ulama’. Sekali pun terjadi penyimpangan di sana-sini, tetapi para ulama tetap menyebut sistem pemerintahan Islam dengan sistem khilafah. Bukan kerajaan, atau yang lain. Imam Asy Suyuthi, dalam kitabnya Tarikh Khulafa’ tetap menyebut penguasa-penguasa kaum muslimin sebagai khalifah, yang berarti kepala negara khilafah.

Demikian pula, para orientalis. Orang-orang kafir ini, yang meneliti sejarah Islam, juga menyatakan bahwa penguasa orang Islam adalah khalifah. Bukan raja. Jika Anda melihat buku Henry Lucas, atau Montgomery Watt, atau Philip K. Hitti, maka di sana dikatakan, ketika mereka menyebut penguasa orang Islam adalah seorang khalifah. Jika orang kafir saja demikian percaya, bagaimana mungkin kita sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak mempercayainya?

Lalu, bagaimana caranya cara menegakkan negara khilafah? Caranya adalah mengikuti metode Rasulullah saw. Mengapa harus Rasulullah saw? Sebab, Allah swt. bersabda,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7)

Juga sabda Rasulullah saw.,
“Barang siapa melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu pun tertolak.” (HR. Muslim)

Dalil-dalil di atas menunjukkan larangan keras untuk mengikuti jalan lain selain jalan Rasulullah. Atau membuat-buat jalan sendiri yang bertentangan dengan jalan Rasulullah, atau mengikuti jalan orang lain yang tidak sama dengan jalan Rasulullah. Bahkan Allah telah menyebut, bahwa Rasulullah merupakan teladan yang baik. Apa yang harus diteladani? Semua hal, sunah-sunah beliau, termasuk juga metode beliau dalam menegakkan Islam. Itu juga harus diteladani. Tidak main-main, jika kita melenceng, maka Allah pun mengancam dengan siksa yang pedih.

Jika kita benar-benar mengikuti metode Rasulullah saw. dalam mencapai kejayaan dan kemuliaan Islam dan kaum muslimin, maka kita pasti akan mendapati berbagai pengalaman dan pemandangan sebagaimana yang dialami dan didapati Rasulullah saw.

Misalnya, Rasulullah saw. berdakwah dengan terang-terangan tanpa ada maksud menyembunyikan sesuatu pun, maka kita pun harus melakukannya pula. Sekali pun masyarakat akan banyak menentang kita. Tidak masalah. Mengapa? Sebab, masyarakat Makkah pada waktu itu juga menentang dakwah Rasul.

Kemudian, Rasulullah saw. dan para sahabatnya, membongkar kebobrokan sistem jahiliyah Makkah, dan menghinakan tuhan-tuhan mereka, sehingga Rasulullah pun mendapatkan berbagai halangan dan perlawanan fisik yang keras. Jika kita mengikuti metode dakwah Rasulullah dengan benar, maka kita pun harus membongkar kebobrokan sistem jahiliyah modern yang saat ini diterapkan. Sekali pun kita juga mendapati berbagai hambatan dan perlawanan. Sama persis, seperti yang dialami Rasulullah saw.

Rasulullah saw. juga berdakwah dengan pemikiran. Melawan pemikiran-pemikiran kufur. Sehingga beliau pun akhirnya harus menghadapi berbagai macam fitnah, mulai dari difitnah sebagai tukang sihir, pendusta, tukang pemutus hubungan nasab, dan sebagainya. Jika kita mengikuti Rasulullah saw. dalam berdakwah, niscaya kita pun akan menjumpai pemandangan yang sama. Kita pun akan terkena berbagai macam fitnah keji dari orang-orang yang tidak menyukai kita.

Rasulullah saw. juga tidak pernah mendirikan laskar-laskar dalam berdakwah. Sekali pun Rasulullah saw. disiksa dan dizalimi secara fisik. Maka kita pun demikian. Kita tidak perlu membuat-buat laskar-laskar untuk mengantisipasi perlawanan fisik. Tidak perlu, sebab Rasulullah saw. juga tidak melakukannya.

Rasulullah saw. berdakwah dengan membentuk kelompok dakwah. Maka kita pun saat ini telah bergabung dalam sebuah kelompok dakwah yang menyeru dalam sebuah aktivitas untuk menuju cita-cita besar, sama persis seperti yang dicita-citakan Rasulullah, yaitu tegaknya Islam. Kelompok dakwah Rasulullah adalah sebuah gerakan politik, bukan gerakan sosial, bukan gerakan akhlaqiyah, bukan lembaga pendidikan, bukan sekolahan, atau yang lainnya. Tetapi sebuah gerakan politik.

Rasulullah saw. berjuang dengan jalur politik. Maka kita pun juga harus berjuang dalam bidang politik sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah saw. Rasulullah berjuang juga tidak terlibat dalam sistem kufur. Bahkan ketika beliau diajak berkompromi dan berkoalisi, maka beliau pun menolak. Hal yang sama juga harus kita lakukan. Kita tidak boleh berkompromi dengan sistem kufur yang ada dan menolak segala bentuk upaya kompromi atau koalisi. Ingat, Rasulullah saw. tidak pernah terbeli. Maka kita pun tidak boleh terbeli.

Rasulullah saw. senantiasa mendekatkan diri kepada Allah untuk semakin dekatnya pertolongan Allah, maka kita pun harus menirunya. Kita harus meningkatkan ketakwaan dalam diri kita agar kita bisa mendekatkan diri pada Allah. Kita bisa mengadakan training internal dalam diri aktivis gerakan dakwah, kita bisa mengadakan mabit (malam bina takwa), dan lain sebagainya. Kedekatan kita kepada Allah, tentu akan berpengaruh pada datangnya Nasrullah (pertolongan Allah).

Rasulullah tidak menjadikan akhlak sebagai metode berdakwah. Sebab, berakhlaknya Rasulullah saw. bukan lantaran agar orang masuk Islam. Tetapi, karena Rasulullah saw. memang ‘hanya’ melaksanakan perintah Allah untuk selalu berakhlak baik kepada setiap orang. Bukan sebagai metode. Kalau pun ada orang kafir Quraisy yang masuk Islam karena keluhuran akhlak beliau, itu karena Allah telah memberikan hidayah kepadanya. Dan bukan lantaran Rasulullah menjadikannya metode berdakwah. Kita pun demikian. Kita menjadi pengemban dakwah hendaknya menghiasi diri kita dengan akhlakul karimah sebagai bentuk pelaksanaan atas seruan Islam.

Rasulullah saw. melakukan pembinaan secara jama’iyah untuk menjelaskan keburukan sistem jahiliyah dan menjelaskan kebaikan sistem Islam di hadapan banyak orang, seperti pada keluarga beliau. Maka kita pun melakukannya. Kita adakan berbagai macam daurah, seminar, training, diskusi publik, Halqah Islam dan Peradaban, muktamar-muktamar, dan berbagai konferensi.

Rasulullah saw. memiliki maktab yang digunakan sebagai tempat-tempat pertemuan para sahabat, yaitu di Darul Arqam. Maka kita pun demikian, keberadaan maktab memang penting sebagai pusat pertemuan para aktivis gerakan dakwah.

Rasulullah saw. juga melakukan pembinaan instensif kepada para sahabat sebagai modal untuk berdakwah. Demikian pula kita. Kita harus selalu aktif mengikuti halqah-halqah yang diadakan gerakan dakwah sebagai bentuk penguatan dalam diri aktivis sebagai modal untuk berdakwah dan mengajak orang lain bergabung dalam jamaah dakwah tersebut.

Rasulullah saw. dan para sahabat melakukan kontak-kontak dengan masyarakat sebagai bentuk dari aktivitas dakwah. Sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar Ash Shidiq kepada orang-orang Quraisy seperti Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan yang lainnya. Maka kita pun harus sama melakukannya. Kita harus kontak dengan banyak orang, sebagai bentuk realisasi kewajiban dakwah.

Rasulullah saw. mengontak tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan (ahlul quwwah) untuk dimintai pertolongan untuk menolong dakwah Rasulullah saw. Misalnya Rasulullah saw. mengontak Bani Tsaqif, Bani Syaiban bin Tsa’labah, Bani Amr bin Sha’sha’ah, Bani Bakar bin Wail, Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, serta Bani Aus dan Khazraj. Kita pun demikian pula. Kita juga harus melakukan thalabun nushrah (mencari pertolongan) kepada para pemilik kekuatan. Jika Rasulullah menolak Bani Amr bin Sha’sha’ah karena mereka mengajukan syarat, maka kita pun harus menolak ketika ada ahlul quwwah yang meminta syarat tertentu kepada kita.

Demikianlah. Dakwah Rasulullah telah memiliki metode yang khas. Dakwah Rasulullah telah mampu membangkitkan umat. Kita pun, insya Allah (jika memang mengikuti metode Rasulullah saw.) akan bisa pula membangkitkan umat.

Sedikit saja kita melenceng dari metode dakwah Rasulullah saw., maka tidak bisa dikatakan kita mengikuti jalan sebagaimana jalan yang ditempuh Rasulullah saw. Oleh karena itu, jika kita memang mengaku mengikuti metode Rasulullah saw., maka kita pasti akan menjumpai hal-hal sebagaimana yang dialami Rasulullah. Jika yang kita jumpai berlawanan dengan apa yang dijumpai Rasulullah saw., bisa dipastikan jalan yang kita lalui, bukanlah jalan yang dilalui Rasulullah saw. Sekali pun endingnya, tujuannya adalah sama.

Contoh, ada yang berpendapat: bagaimana kalau (misalnya) suatu saat negara khilafah akan benar-benar berdiri dengan jalur parlemen (jalan demokrasi)?

Maka hal ini bisa dikembalikan pada fakta perjalanan dakwah Sirah Rasulullah saw. Terlepas dari benar-tidaknya jalan yang ditempuh, kalau pun kelak negara khilafah memang benar-benar berdiri dengan jalan demokrasi, tetapi itu bukanlah negara khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Ingat, negara khilafah yang ingin kita tegakkan adalah negara khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, baik pada saat negara itu berdiri atau cara penegakannya. Sedangkan ‘negara khilafah’ yang didirikan atas dasar demokrasi, jelas, itu adalah negara khilafah ‘alal dimuqrathiyyah, bukan ‘ala minhajin nubuwwah.

Ingat, Rasulullah saw. bersabda,
“Masa kenabian akan berlangsung di tengah-tengah kalian sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Allah mencabutnya jika Dia menghendakinya. Lalu datang masa kekhalifahan yang mengikuti manhaj kenabian selama masa yang diikehendaki Allah. Kemudian Allah mencabutnya jika Dia menghendakinya. Lalu datang masa kekuasaan yang zalim (mulkan ‘adhdhan) selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mencabutnya jika Dia menghendakinya. Lalu datang masa kekuasan diktator bengis (mulkan jabariyyan) selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mencabutnya jika Dia menghendakinya. Setelah itu akan datang (kembali) masa kekhalifahan yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian Rasulullah diam.” (HR. Ahmad)

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak yakin dengan jalan perjuangan ini. Tidak ada alasan untuk lemah dan bermalas-malasan dalam memperjuangkan tegaknya negara khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Jika Anda mengira bahwa perjuangan ini akan enak, menyenangkan, maka Anda salah. Rasulullah saw. dan para sahabat telah menghadapi berbagai hambatan, rintangan, tantangan, dan ancaman yang menyebabkan beliau dan para sahabat dizalimi orang-orang kafir.

Jadi, yakinlah bahwa Allah telah berjanji, bahwa setiap kebaikan pasti akan mendapatkan balasan yang baik pula dari Allah. Jika Anda lemah, maka itu pilihan Anda. Dan setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan. Allah telah berjanji kepada orang-orang mukmin. Dan Allah juga telah berjanji kepada orang-orang yang bermalas-malasan dalam hal kebaikan.

Mari kita memilih, mau masuk golongan yang mana. Allah berfirman,
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Fathir: 32)

Ayat ini tidak ditujukan untuk orang kafir, tetapi untuk kaum muslim. Kata-kata aurotsnal kitaabal ladziinasthofainaa min ‘ibadinaa (Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami) menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan untuk orang Islam. Karenakita termasuk orang Islam, berarti kita termasuk orang-orang yang diseru Allah. Kita tinggal memilih, apakah kita Akan masuk golongan zhaalimun linafsihi (menzalimi/menganiaya dirinya sendiri), atau golongan faminhum muqtashid (orang-orang yang pertengahan), atau golongan saabiqun bil khoiroot (lebih dahulu berbuat kebaikan).

Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan orang-orang pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya sebanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan.

Oleh karena itu, saya mengajak Anda semua, mari bergerak menuju surga, yang luasnya seluas langit dan bumi,
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Dan perhatikanlah kisah berikut, suatu kisah yang menunjukkan bahwa ketika seruan Allah datang, maka dia tidak ragu-ragu lagi, dan langsung berangkat melaksanakan perintah itu, sekali pun harus dibayar dengan nyawanya, sebab surga itu benar-benar nyata.
“Nabi saw. berangkat bersama para sahabatnya hingga mendahului kaum Musyrik sampai ke sumur Badar. Setelah itu kaum Musyrik pun datang. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Berdirilah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Anas bin Malik berkata; maka berkatalah Umair bin al Humam al Anshary, “Wahai Rasulullah! Benarkah yang kau maksud itu surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasulullah saw. menjawab, “Benar” Umair berkata, “ehm..ehm..”. Rasulullah saw. bertanya kepada Umair, “Wahai Umair, apa yang mendorongmu untuk berkata ehm..ehm..?” Umair berkata, “Tidak ada apa-apa Ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi penghuninya”. Rasulullah saw. bersabda, “Sesunguhnya engkau termasuk penghuninya, Wahai Umair!” Anas bin Malik berkata; Kemudian Umair bin al-Humam mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya dan ia pun memakannya. Kemudian berkata, “Jika aku hidup hingga aku memakan kurma-kurma ini sesungguhnya itu adalah kehidupan yang lama sekali.” Anas berkata; Maka Umair pun melemparkan kurma yang dibawanya, kemudian maju untuk memerangi kaum Musyrik hingga terbunuh.” (HR. Muslim)