Bila pada edisi sebelumnya fokus obrolan kita
pada seputar upaya untuk menguak ‘kebaikan hati’
para aktivis yang membagikan kondom gratis, maka kali ini kita akan membahas
lebih dalam tentang sebab-musababnya. Solusi islami tentu saja otomatis ada
dalam setiap pembahasan.
Pohon berdiri ditopang akar
Coba deh kamu perhatikan sebuah pohon yang
terlihat kuat. Apa sih yang membuat tuh pohon mampu berdiri kuat menjulang
secara gagah? Batang-batangnya sangat kokoh dan mengeluarkan daun, bunga bahkan
buah yang indah dan lezat. Ternyata, ada sesuatu yang sangat penting di bawah
sana meski kadang dilupakan orang: Akar. Kekuatan akar menjadi kunci bagi kuat
tidaknya posisi sebuah pohon untuk tegar berdiri.
Manusia pun tak jauh beda. Di balik sikap
keukeuh seseorang untuk
bertahan pada suatu pendapat dan sikap tertentu, itu juga karena ada akidah
dalam dirinya. Ibarat akar pada pohon yang tersimpan jauh di dalam tanah, akidah
pada diri manusia ini juga tidak terlihat secara kasat mata.
Akidah adalah keyakinan yang mendalam,
mendasar dan menyeluruh tentang manusia, alam sekitar dan kehidupan baik sebelum
ataupun setelah mati. Hal inilah yang akan mewarnai dan mempengaruhi pola pikir
dan tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang menganggap bahwa melakukan
hubungan seks di luar nikah alias berzina adalah hal yang sah-sah aja karena itu
adalah hak asasi tiap manusia yang harus dilindungi, maka tidak bisa tidak orang
seperti ini pastilah berakidah sekuler alias memisahkan agama dari kehidupan.
Agama dipandang sebagai urusan individu yang cuma mengurusi hubungan manusia
dengan tuhan. Selebihnya, serahkan saja pada otak dan hukum buatan akal manusia.
Tidak ada seorang pun, tidak juga masyarakat dan negara yang berhak melarang
perzinaan apabila dilakukan suka sama suka. Toh, nggak ada pihak yang dirugikan,
itu yang selalu menjadi dalih orang-orang model begini. Sudah bisa dipastikan
bahwa mereka ini adalah orang-orang yang tidak meyakini (minimal kurang yakin)
adanya surga dan neraka setelah kehidupan berakhir.
Bila pun mereka yakin surga dan neraka ada,
mereka akan berpikir: “Toh bukan aku pelakunya. Kalau nggak mau diganggu urusan
kita, maka jangan mau mengganggu urusan orang lain. Toh, kebebasan berperilaku
dilindungi oleh undang-undang.” Yang menjadi fokus mereka hanya berusaha
mencegah efek negatif dari kebebasan berperilaku ini. Kondomisasi dianggap
sebagai solusi. Mereka lupa (atau pura-pura lupa?) bahwa pembagian kondom gratis
hanyalah menyelesaikan masalah dengan menciptakan masalah baru. Kayak orang
mademin kebakaran tapi bikin kebakaran baru. Kondom gratis ke sekolah-sekolah
(bahkan ada yang ke SD, lho—lihat Republika, 9 Desember 2007) menjadi bom waktu untuk rusaknya
moral generasi muda suatu bangsa.
Demokrasi, si biang kerok
Kebebasan berperilaku menjadi daya tarik
tersendiri atas slogan HAM yang dengungnya sangat laris manis bak kacang goreng.
Siapa sih yang nggak pengen untuk bisa bebas berperilaku tanpa ada yang
melarang? Mau begini, mau begitu, suka-suka gue selama nggak merugikan orang
lain. Otomatis induk dari kebebasan berperilaku ini akhirnya juga laris manis
mengikuti turunannya. Apakah induk kebebasan berperilaku ini? Tak lain dan tak
bukan adalah konsep Demokrasi.
Selalu ada awal bagi sebuah perjalanan. Selain
sekularisme yang mendasari maraknya seks bebas, demokrasi turut andil untuk
meramaikan panggung kerusakan dunia. Sistem kuno warisan jaman Yunani kuno ini
adalah biang kerok dari semua masalah-masalah di dunia termasuk kebebasan
berperilaku ini.
Oya, yang perlu diwaspadai, demokrasi ibarat
bunglon yang pandai mengubah bentuk sehingga membuat siapa saja yang memandang
bakal terkecoh. Tidak sedikit kaum muslimin yang dengan suka cita menyambut ide
ini hanya karena ada salah satu bagian dalam demokrasi mirip dengan Islam,
misalnya musyawarah. Padahal faktanya demokrasi jauh lebih menyukai pengambilan
pendapat dengan poling atas suara terbanyak daripada musyawarah itu sendiri.
Demokrasi yang mempunyai slogan suara rakyat
adalah suara Tuhan meyakini bahwa suara mayoritas adalah pemenang. Jadi kalo ada
10 wakil rakyat terdiri dari 9 perampok dan cuma satu saja orang baik, maka
keputusan yang dihasilkan pastilah kesepakatan para perampok. Inilah yang
disebut suara mayoritas, tanpa peduli salah atau benar. Dengan demokrasi yang
halal bisa menjadi haram, dan yang haram bisa pula menjadi halal.
Boys and gals, dalam
demokrasi berzina bisa menjadi halal ketika mayoritas rakyat atau wakilnya
mengatakan demikian. Maka, lokalisasi pelacuran bisa menjadi aset negara untuk
ngumpulin pajak. Jilbab yang jelas-jelas wajib bagi perempuan menjadi haram
ketika undang-undang mengatakan demikian. Masih ingat kan dengan kasus diusirnya
banyak muslimah di sekolah negeri tahun 90-an hanya karena tidak mau melepas
kerudungnya dalam kelas?
Sungguh naif banget kalo ada orang yang
menyamakan demokrasi dengan musyawarah apalagi dengan Islam hanya karena sangat
sedikit kemiripan di antaranya. Kalo kamu suka pisang dan monyet pun juga suka,
apakah itu artinya kamu sama dengan monyet? Tentu nggak dong. Kecuali kalo kamu
emang ngefans sama Charles Darwin yang mengatakan bahwa nenek moyang manusia
adalah monyet. Hiii... naudzhubillah banget. Bagi yang meyakini teori Darwin ini, sedikit bisa
dimaklumi kalo kelakuannya juga nggak beda-beda jauh dengan monyet yang nggak
butuh lembaga pernikahan untuk menyalurkan nafsu seksualnya. Ciloko!
Baik dan buruk, menurut siapa?
Kebenaran/kebaikan itu relatif, demikian
slogan yang sering disuarakan oleh para pengusung demokrasi. Kalo kebenaran
memang relatif, seharusnya tidak perlu ada penegak hukum di dunia bila penganut
demokrasi konsisten dengan slogan ini. Bayangkan saja seorang polisi yang
menangkap pencuri dengan alasan merugikan orang lain dan mengganggu ketenangan
umum. Bisa saja si pencuri berkilah itu kan kebenaran menurut versi polisi.
Sedangkan menurutnya, kebenaran adalah mencari sesuap nasi untuk anak yang
menangis di rumah karena tiga hari tidak makan. Maka, tidak seharusnya polisi
menghukum si pencuri dong. Lha kalo begini kondisinya, bisa kacau dunia.
Sehingga tidak bisa tidak, harus ada standar yang tepat dan pas bagi manusia
karena satu sama lain pastilah mempunyai kemauan dan kepentingan yang
berbeda-beda.
Standar tepat dan pas ini adalah hukum
syara’, yakni aturan Islam.
Apa yang baik menurut syara’, pasti baik untuk manusia. Biar kata seluruh dunia mengatakan
bahwa berzina itu adalah hak asasi manusia, selama syara’ menyatakan haram, maka haram pula
hukumnya hingga hari kiamat kelak. Berkasih sayang dengan lawan jenis akan
menjadi halal bila dilakukan setelah akad nikah, bukan sebelumnya.
Intinya, yang membedakan manusia beriman dan
bukan adalah standar yang dipakainya dalam beramal. Kalau sekadar mengaku muslim
saja semua orang juga bisa. Kan gampang banget tuh mencantumkan status agama
sebagai orang Islam di KTP. Tapi tentang lurusnya akidah dan amal? Ini yang kudu
dipertanyakan bagi orang yang suka mengaku-aku muslim tapi nggak pake aturan
Islam dalam seluruh aktivitas kehidupannya.
Jadi, solusi untuk menekan bertambahnya korban
AIDS bukan dengan cara membagikan kondom gratis. Cara efektif untuk
menyelesaikan masalah secara tuntas adalah adanya benteng takwa pada individu,
masyarakat dan negara. Dengan ketakwaan individu, maka manusia akan mempunyai
kontrol diri untuk tidak melakukan zina. Didukung oleh ketakwaan kolektif
masyarakat, maka bisa dipastikan rakyat akan menolak adanya lokalisasi dan
memberikan sanksi sosial bagi pelakt zina. Dan yang utama dari semua ini adalah
penerapan aturan dan sanksi oleh negara. So, negaralah yang berwenang menutup
keberadaan lokalisasi zina dan beragam kemaksiatan lainnya. Negara berkewajiban
juga memberi hukuman bagi siapa saja yang melanggar aturan ini, gitu
lho.
Memang, mewujudkan kondisi ideal ini tidak
mudah. Tapi bukankah tidak ada sesuatu di dunia ini yang mudah? Apalagi dengan
hadangan paham hedonisme (paham serba boleh), kapitalisme dan demokrasi membuat
upaya ini menjadi semakin tidak mudah. Tapi yakinlah bahwa Allah Swt. melihat
proses yang kita lalui untuk memperjuangkan syariatNya. Akan jauh lebih nyata
niat untuk mengurangi angka penderita AIDS dengan menyadarkan masyarakat akan
pemahaman Islam yang benar. Bukan dengan malah membagi kondom gratis dan
mengompori remaja untuk mencoba seks dengan kondom gratisan. Saya teringat
sharing seorang teman yang
membagikan brosur taat kepada syariat dengan solusi penerapan Islam sebagai
ideologi negara dalam peringatan hari AIDS sedunia tempo hari. Pada saat yang
sama dan hanya berjarak beberapa meter darinya, para aktivis kondom membagikan
benda terbuat dari lateks ini secara gratis. Ironis!
Penanggulangan AIDS akan jauh lebih efektif
bila saja perilaku save sex
mempunyai satu suara dari seluruh komponen masyarakat: yakni, “No Free Sex”.
Tidak lagi ada alasan apa pun bahwa melakukan seks atau tidak itu adalah hak
pribadi masing-masing. Setiap individu mempunyai kewajiban mengingatkan saudara,
teman, dan sahabat untuk tidak melakukan seks sebelum menikah secara sah.
Rasulullah saw. tercinta bersabda:
“Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang
menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu
rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya
masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila
ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang
yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata:
“Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air),
tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang
lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)
Masyarakat kita saat ini justru cuek satu sama
lain. Kalo gitu, tinggal nunggu kehancuran karena merasa bahwa kebebasan
berperilaku adalah hak asasi manusia. Waduh!
Moga aja paparan ini mampu membuka mata hati
dan pikiran kamu untuk mendapatkan pencerahan. Kondomisasi apa pun alasan di
baliknya dengan dalih apa pun, adalah suatu upaya pelegalan seks bebas.
Sekularisme dan demokrasi adalah biang kerok kerusakan akhlak dan tatanan sistem
dalam masyarakat saat ini. Oleh karena itu saatnya dengan tegas kita katakan
bahwa syariat Islam adalah solusi. Caranya? Ayo, ngaji! Supaya kamu nggak
terjerumus jadi aktivis untuk kegiatan yang salah dan bahkan merusak generasi.
Nah, sambil ngaji, barengi deh dengan dakwah untuk sampaikan kebenaran Islam.
Setuju? Pasti dong. Sip dah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar