Bro, ketemu lagi ama gue. Kali ini gue bakalan
nulisin lagi catatan harian di diary gue yang udah lecek dan kumal ini. Gue
masih belum bisa ngelepasin emosi gue tentang kondisi saudara-saudara kita di
Palestina, khususnya di Gaza. Sampai hari ini (Senin, 12 Januari) udah hari
ke-16 Israel membombardir Gaza. Jumlah korban warga Palestina udah mencapai
lebih dari 880 orang (dan yang luka-luka lebih dari 3000 jiwa). Kebanyakan dari
korban adalah wanita dan anak-anak.. Tapi gue nyaksiin para pemimpin
negeri-negeri Islam yang kawasannya deket dengan Israel cuma mampu diam. Nggak
berbuat apa-apa.
Om Ahmadinejad, yang presiden Iran itu, belum
juga ngirimin paket rudal berkepala nuklirnya ke Israel. Mesir? Ah, gue juga
nggak percaya tuh sama presidennya. Namanya sih bagus, Husni Mubarak (baik dan
diberkahi), tapi yang terjadi justru lebih memilih memblokade pintu masuk dari
Mesir ke Gaza. Sehingga bantuan jadi tertahan di sana. Gue jadi kesel, maaf ya
Pak De (idih, gue kok manggil doi Pak De?), gue ganti nama Anda jadi (Laa Husni
Laa Mubarak alias nggak baik dan nggak diberkahi). Cobalah kirim tuh tentara
Mesir ke Gaza. Lupakan Perjanjian Camp David. Itu masa lalu, Pak De. Israel
harus digempur saat ini juga!
Masih mending ada kabar bahwa Hizbullah dari
Lebanon udah merapat ke West Bank alias Tepi Barat. Kabarnya sejak Sabtu lalu
udah siap membantu dengan 1500 pasukan dan mulai meluncurkan puluhan roket ke
wilayah Israel. Mudah-mudahan aja jadi kenyataan membantu saudaranya di
Palestina dengan lebih riil. Seharusnya sih memang dikoordinir oleh negara,
sayangnya nih penguasa-penguasa Arab hanya mampu diam. Di mana pedulimu? Ah,
lagi-lagi gue juga cuma bisa ngumpat lewat tulisan.
Penggalangan dana dan kiriman obat-obatan
memang dibutuhkan. Pastinya mereka akan butuh itu. Tapi Gue rasa itu juga belum
cukup. Sebab, yang lebih dibutuhkan saat ini adalah pasokan senjata dan pasukan
terlatih yang dikirim ke sana untuk meremukkan serdadu Yahudi Israel. Lha,
gimana jadinya kan kalo selesai diobatin eh malah ditembaki tentara Israel. Kalo
punya senjata kan bisa ngasih perlawanan dengan seimbang.
Gue juga kudu nulis bahwa Amerika benar-benar
pembela kepentingan Israel. Buktinya, meski 14 Anggota Dewan Keamanan PBB
(Austria, Burkina Faso, Kosta Rika, Kroasia, Jepang, Libya, Meksiko, Turki,
Uganda, Vietnam, Cina, Perancis, Inggris, dan Rusia) mendukung dikeluarkannya
Resolusi DK PBB No 1860/2009 tentang gencatan senjata di wilayah konflik
tersebut, eh Amerika malah abstain. Diam kan berarti mendukung. Harusnya tegas
dong ya. Ah, gue makin yakin bahwa agresi Israel ini didukung oleh Amerika. Sama
seperti ketika negara ini berdiri tahun 1948 atas dukungan Amerika Serikat dan
Inggris.
Bro, gue pikir resolusi DK PBB nggak terlalu
efektif buat Israel. Harusnya emang kaum muslimin bersatu dalam jihad melawan
Israel. BTW, gue jadi inget lirik dari salah satu lagunya Thufail Alghifari,
rapper muslim yang gue suka banget lagu-lagunya, “Jihad tidak dengan negosiasi,
jihad tidak dengan perundingan damai, tidak juga dengan dialog, jihad adalah
sebaik-baiknya perlawanan.” Nah, ini yang gue suka dan setuju. Tapi sayangnya,
para pemimpin negeri-negeri Muslim seperti kerdil di hadapan Israel yang kecil.
Mereka lebih suka wajahnya diinjak sepatu serdadu Israel ketimbang membela kaum
muslimin. Parah banget!
Saat ini, kita semua hanya bisa mengutuk dan
mengumpat kekejian Israel sembari meratapi kepedihan dan kesedihan
saudara-saudara kita di Palestina. Ya, gue juga sama. Gue cuma bisa menumpahkan
kekesalan di catatan harian gue ini. Banyak sudah kaum muslimin yang bantu kirim
dana, kirim relawan medis, malah ada juga yang berencana kirim relawan jihad ke
sana. Ini bagian dari bentuk kepedulian. Sudah bagus. Meski untuk relawan jihad
ke sana, pemerintah di sini tidak mengijinkan. Ok. Tapi harusnya ada gantinya,
yakni pengiriman tentara ke sana untuk membantu perjuangan rakyat Palestina yang
telah lama dijajah Israel. Iya nggak?
Emang sih nggak mudah ngubah cara pandang kita
yang udah dikotak-kotak dengan ide nasionalisme. Ada juga orang yang malah
mempertanyakan, “ngapain juga mikirin orang-orang Palestina, negara sendiri aja
belum beres.” Gue, juga bisa balik tanya ama orang yang ngasih komen kayak gini,
“harusnya ketika terjadi bencana tsunami di Aceh atau gempa di Yogya, kita
menolak bantuan dari perorangan atau negara lain waktu itu. Kemudian kita
bilang: nggak usah mikirin kami!” apa bisa kayak gitu? Mengapa mereka membantu?
Karena mereka peduli.
Bro en Sis, gue sadar banget bahwa di negeri
kita juga lagi banyak kesusahan: banjir, longsor, gempa di Papua, kapal
tenggelam (KM Teratai Prima yang tenggelam di perairan Majene-Sulawesi Barat,
sampai saat ini 182 orang penumpangnya masih dinyatakan hilang), kebakaran,
kesulitan nyari lapangan kerja, harga elpiji yang terus merangkak naik dan susah
didapat, kriminalitas, pelacuran dan seabrek masalah lainnya. Itu emang masalah
kita semua. Tapi, bukan berarti kita melupakan semuanya jika nggak bisa
dilakukan semuanya. Tul nggak sih? Kita bagi-bagi perhatian dan tugas sesuai
kemampuan dan keahlian kita. Bahkan negara seharusnya lebih bertanggung jawab
dalam masalah ini.
Satukan langkah kita!
Gue ngerasa emang nggak mudah untuk menyatukan
kaum muslimin yang bukan saja telah dipecah-pecah dalam berbagai negara, tapi
pikiran dan dan perasaannya aja sulit disatukan meskipun yang bersangkutan
berada dalam barisan pejuang Islam. Gue berharap, HAMAS berjuang demi Islam,
bukan cuma demi bebas dari penjajahan Israel aja lalu mendirikan Palestina dalam
bingkai sistem yang bukan Islam. Sebab, yang gue tahu dan paham bahwa saat ini
tak satupun negara di dunia yang menerapkan Islam secara total dari akar sampe
daun dalam bingkai negara.
Arab Saudi? Ah, negeri itu pake sistem
kerajaan, kok. Lagian nggak semua syariat Islam diterapkan. Malaysia? Nggak beda
jauh ama Arab Saudi, bahkan demokrasi masih menjadi sistem untuk ngatur
kehidupan rakyatnya. Mesir, Turki, Kuwait, Libanon, Yordania, termasuk
Indonesia? Ah, hanya kaki tangan para kapitalis penjajah. Pantes aja darah kaum
muslimin nggak berhenti mengalir, wajar saja penderitaan kaum muslimin tak
kunjung usai, nggak heran juga kalo sampe sekarang kaum muslimin ditindas,
dihina, disiksa dan dihabisi. Karena kita masih berharap pada kekuatan-kekuataan
yang merintangi berdirinya kekuatan Islam. Kita masih berharap pada demokrasi,
masih berharap pada kapitalisme, masih berharap pada sistem buatan manusia. Ah,
gue yakin kalo gitu, bahwa siapa bilang demokrasi sudah mati, wong orang Islam
yang seharusnya membunuh demokrasi malah membelanya mati-matian. Akan ada banyak
antek penjajah, yang kadang tanpa sadar kita sendiri menjadi orang yang tertipu
dengan propaganda musuh-musuh Islam tersebut.
Gue miris banget dengan kondisi kayak gini.
Jumlah kaum muslimin itu banyak banget. Tapi semuanya tercerai-berai. Nggak ada
ikatan pasti di antara mereka, kecuali ikatan akidah semata tanpa dibingkai
dalam aturan negara yang sama. Kita masih terkotak-kotak di negara
masing-masing. Kita masih merasa bangga sebagai sebuah bagian dari suatu bangsa
sambil merendahkan bangsa lain. Orang Indonesia dan Malaysia bertengkar demi
nasinalisme, padahal sama-sama banyak muslimnya. Orang Palestina ingin merdeka
dari Israel. Itu wajar. Tapi, yang nggak wajar adalah ingin merdeka dan menjadi
negara berdaulat tapi menerapkan kapitalisme-sekularisme. Seperti negara
lainnya. Semoga saja tidak. Karena kalo kayak gitu, sama aja dengan keluar dari
mulut buaya masuk mulut harimau! Sama celakanya. Dan, Islam makin lama meraih
kebangkitan. Umat Islam, makin sering menjadi bangkrut ketimbang
bangkit.
Mungkinkah kondisi ini adalah gambaran yang
telah disampaikan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadisnya? Beliau saw.
bersabda: “Akan datang suatu
masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu
mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang
berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. Salah
seorang shahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu
sedikit?” Rasulullah menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat
banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang
terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari
hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian
‘wahn’“.
Seorang shahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan
‘wahn’ itu?” Dijawab
oleh Rasulullah saw.: “Cinta
kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”.
(at-Tarikh al-Kabir, Imam
Bukhori; Tartib Musnad Imam Ahmad XXIV/31-32; “Sunan Abu Daud”, hadis No. 4279)
Kondisi yang dialami kaum Muslimin saat ini,
tentu membuat gembira musuh-musuhnya. Nggak usah capek-capek memerangi karena
umat Islamnya sendiri udah nggak bertenaga dan bahkan mengadopsi apa yang
diajarkan oleh mereka. Permisifisme dan hedonisme adalah budaya Barat, tapi kini
diamalkan juga oleh kaum Muslimin. Kapitalisme-sekularisme dan demokrasi adalah
aturan kehidupan musuh-musuh Islam, tapi kini banyak pejuang dan pembelanya dari
kalangan kaum muslimin. Tuh, gimana nggak senang dan bersorak gembira kalo
kenyataannya kayak gini. Tul nggak?
Padahal, Islam tuh keren banget, cuma
sayangnya banyak umat Islam yang nggak tahu. Bahkan ada yang mencoba mengambil
manfaat dari budaya Barat secara total. Ini kan aneh. Duh, kalo gitu, makin
seneng aja musuh-musuh Islam. Benar kata Muhammad Abduh, “Al Islamu mahjubun bil muslimin – agama Islam terhalangi oleh kaum
muslimin.” Yup, cahaya dan keagungan Islam pudar oleh
perbuatan umatnya sendiri.
Dengan kenyataan seperti ini, tentunya kita
berharap banget nih kaum Muslimin (khususnya remaja) segera nyadar. Kita ini
hebat, tapi karena kita kebanyakan nggak memahami Islam sebagai ideologi, cuma
tahu Islam tuh ngurus ibadah ritual belaka, maka akibatnya kita jadi lemah, tak
berdaya, hilang kekuatannya, dan tumbuh subur kemaksiatan dalam kehidupan kita.
Kondisi ini bikin musuh-musuh Islam seneng ati. Liat aja Israel, betapa negara
ini adem-ayem ngebunuhi saudara kita di Palestina. Aduh, rugi banget dah kita.
Ayo bangkit!
Hanya kepada Allah Swt. kita berharap dan
memohon segala pertolongan. Semoga kita semua diberkahi, dirahmati, dan
senantiasa dilindungi oleh Allah Swt. Allah Ta’ala nggak bakalan salah dalam
mengkalkulasi amalan kita. Jadi, yuk sama-sama kita berjuang untuk membela
Islam. Wujud pembelaan kita kepada rakyat Palestina semata karena mereka muslim.
Saudara kita. Semoga keimanan, ketakwaan, keberanian, keikhlasan, dan semangat
juang senantiasa menjadi penggerak dakwah kita. Tentu, agar Islam tetap bergema
hingga akhir jaman.
Bro, gue pernah baca sebuah hadis. Nih, gue
tulis ulang ya. Semoga saja kian meyakinkan diri kita dan mampu mengobarkan
semangat kita. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Perkara ini (Islam) akan merebak di segenap penjuru yang
ditembus malam dan siang.
Allah tidak akan membiarkan
satu rumah pun, baik gedung maupun gubuk melainkan Islam akan memasukinya
sehingga dapat memuliakan
agama yang mulia dan menghinakan agama yang hina. Yang dimuliakan adalah Islam
dan yang dihinakan adalah kekufuran” (HR Ibnu
Hibban)
Bro en Sis, gue doain semoga elo semua dan
gue, ya kita semua, menjadi pejuang dan pembela Islam yang ikhlas dan gagah
berani, sebagaimana Muhammad al-Fatih sang pembebas Konstantinopel. Beliau dan
pasukannya menaklukkan Konstantinopel alias Byzantium yang saat itu merupakan
pusat kekaisaran Romawi Timur pada 1453 M (857 H).
Muhammad al-Fatih, pemimpin para pemuda yang
usianya belum genap 23 tahun telah dimuliakan oleh Allah Swt. melalui pujian
Rasulullah saw. sebagai pembebas Konstantinopel: “Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (yang membebaskan)
Konstatinopel dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya.”
(HR Ahmad)
Ayo, siapa siap membela rakyat Palestina dan
membebaskan mereka dari kekufuran dan kemudian hidup sejahtera di bawah naungan
Khilafah Islamiyah sebagaimana ketika Khalifah Umar bin Khathtab r.a.
membebaskan Yerusalem (Baitul Maqdis) dari cengkeraman pasukan Salib Eropa? Kita
harus semua semuanya.
So, segera hentikan
diam kita dan satukan langkah untuk maju bersama. Jangan reaksioner ketika
melihat kenyataan ini. Untuk kemudian lupa lagi setelah kondisi aman dan damai.
Tapi kita harus stabil. Spartan. Nggak kenal lelah. Okelah kita sekarang fokus
gimana melawan agresi Israel atas Palestina. Kita harus bahu-membahu melakukan
dukungan dan perlawanan. Tapi setelah selesai, jangan lupa bahwa masalah utama
adalah karena umat Islam nggak terikat dalam ikatan yang kuat dalam bingkai
Daulah Khilafah Islamiyah. Itu masalah utamanya, Bro. Jadi perjuangan menegakkan
Khilafah tetap akan jalan terus sampai kapan pun. Waduh, gue kok jadi ngedadak
bisa nulis banyak dalil kayak gini ya? Hahahaha.. semoga saja gue nggak sedang
ngimpi! [solihin: osolihin@gaulislam.com]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar