Siapa sih yang nggak tahu jilbab itu apa?
Yupz…jilbab adalah baju takwa seorang muslimah. Meski banyak salah kaprah dalam
memahami definisi jilbab tapi kita semua sepakat bahwa aurat muslimah itu semua
bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Dan itu, kudu ditutup biar yang
tidak berkepentingan nggak bisa lihat.
Seiring dengan gencarnya dakwah Islam di
tengah masyarakat, Alhamdulillah banyak muslimah yang sadar untuk menutup aurat.
Di satu pihak, hal ini kudu kita syukuri. Tapi di pihak lain, ternyata jilbab
marak itu hanya sekedar trend. Parahnya, ada juga pihak yang menjadikan jilbab
ini hanya sebatas simbol berupa secarik kain penutup kepala. Bahkan akhir-akhir
ini banyak pro dan kontra tentang jilbab yang katanya sebagai komoditi politik
golongan tertentu.
Hmm…ternyata jilbab membawa bahasan yang tak
kalah serunya untuk diobrolin. Biar anti manyun, ikuti terus yuk topik tentang
jilbab ini. Tarik maaang!
Jilbab=ketundukan
Inti dari Islam adalah ketundukan. Tunduk dan
patuh pada Dzat Yang Maha Menciptakan dan Mengatur, termasuk dalam urusan
berpakaian seorang muslimah. Dalam hal ini, Allah telah mengaturnya dalam QS
an-Nur [24]: 31 dan al-Ahzab [33]: 59 (untuk isi ayat dan terjemahannya secara
lengkap, silakan baca al-Quran yang kamu punya ya..).
Ketika Allah Swt. telah menetapkan satu
syariat bagi manusia, maka tak ada pilihan bagi manusia tersebut untuk memilih
syariat/aturan lainnya. Perintah Allah ini haruslah disambut dengan ketundukan
dan keikhlasan dalam menjalankannya (nah, biar lebih mantap, penjelasan ini bisa
kamu baca di al-Quran surat al-Ahzab ayat 36)
Meskipun demikian, ternyata fakta di lapangan
menunjukkan bahwa berjilbabnya seseorang tidak selalu karena factor takwa.
Banyak factor-faktor lain yang menyertai niat seseorang ketika ia memutuskan
menutup aurat. Ada yang berjilbab karena alasan lebih simple dan nggak bingung
memilih mode ketika akan bepergian. Ada juga yang mengatakan dirinya terlihat
lebih cantik bila berjilbab. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sudah
waktunya berjilbab karena sudah berumur. Hanya anak muda saja yang pantas untuk
tidak berjilbab. Waduh…kacau juga ya.
Parahnya, ada yang berjilbab karena bintang
idolanya berjilbab juga. Atau istri politisi tertentu berjilbab, sehingga
akhirnya hal ini jadi alasan untuk ikut pemilu dalam sistem kufur bernama
demokrasi. Bahkan saat ini jilbab menjadi salah satu media untuk mempolitisir
Islam.
Padahal sesungguhnya, jilbab adalah satu
bentuk kecil dari ketundukan dan ketaatan seorang hamba kepada Khaliknya.
Sedangkan bentuk ketaatan lainnya masih sangat banyak yaitu dalam semua aspek
kehidupan. Termasuk juga dalam menyalurkan aspirasi politik, umat Islam kudu
taat pada aturan Allah Ta’ala secara mutlak. Tidak boleh hanya karena simbol jilbab terus
jadi ikut-ikutan berpesta demokrasi yang jelas-jelas menjadikan manusia sebagai
berhala. Yang bersimbol jilbab aja nggak boleh, apalagi bagi yang tidak
berjilbab. Ini masalah prinsip Bung! Bukan sekadar ikut-ikutan aja karena setiap
amal pastilah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Jilbab dan politik
Di tengah suhu Indonesia yang panas dengan
gempita pemilu, jilbab menjadi ramai diperbincangkan. Ada pro dan kontra
menyikapi soal jilbab ini. Ada yang bersuara keras agar jilbab tidak dikaitkan
dengan kepentingan politik apa pun. Agama terlalu suci untuk dilibatkan dengan
politik yang kotor, itu alasannya. Tapi di sisi lain, ada juga pihak yang
tersepona, eh, terpesona karena ada sosok tertentu yang berjilbab sehingga
menganggapnya lebih islami.
Agar kamu nggak bingung, yuk kita dudukkan
masalah jilbab dan politik ini di tempat semestinya. Pertama, kamu kudu paham
dulu makna politik. Dalam Islam, politik adalah riayatus-syu’unil ummah, yaitu mengurusi urusan umat
dengan satu sistem tertentu yaitu Islam. Yang namanya urusan umat, itu bukan
tentang jilbab saja. Tapi sejak mulai bangun tidur hingga tidur lagi termasuk
juga dalam mengelola perekonomian, pendidikan, pidana, perdata dsb, itu juga
bagian dari urusan umat.
Islam tidak mengenal sekularisme atau
pemisahan agama dari kehidupan. Sebaliknya, Islam adalah the way of life plus ideologi yang kudu
ada pada diri seseorang yang mengaku dirinya muslim. Karena tak ada sekulerisme,
maka politik pun menjadi bagian dari Islam. Ketika kamu sadar sebagai muslimah
kudu berjilbab, maka saat itulah kamu mempunyai kesadaran politik yang bagus.
See…ternyata makna politik tidak sesempit yang kamu kira sebelumnya.
Politik tidak melulu bermakna kekuasaan. Tapi
kekuasaan diperlukan untuk menegakkan agama termasuk salah satunya adalah
berjilbab. Mungkin kamu nggak pernah ngalami yang namanya berjilbab diusir dari
sekolah negeri. Itu karena saat itu peraturan pemerintah melarang pemakaian
jilbab di lingkungan akademis. Walhasil, yang namanya muslimah berjilbab diseret
dan diusir dari kelas menjadi hal yang lazim sekaligus mengenaskan. Saya pun
pernah diintimidasi aparat hanya karena menolak foto KTP dan SIM yang
memperlihatkan telinga.
Dari cerita di atas, jelas banget kan kalo
ternyata kebijakan politik yang pro syariah itu sangat dibutuhkan. Dan syariah
ini nggak akan mungkin kaaffah (keseluruhan) dilaksanakan dalam sistem yang
bernama demokrasi. Karena hakikat demokrasi ini adalah suara terbanyak tak
peduli halal dan haram. Jadi kalo mayoritas bilang jilbab haram, maka sah saja
negara bilang jilbab haram. Begitu sebaliknya, bila pelacuran dikatakan halal
karena ada maslahat di sana yaitu pajak bagi negara, maka demokrasi pun
mengesahkannya.
Intinya, syariah Islam nggak bakal bisa
sempurna penerapannya dalam sistem kufur bernama demokrasi. Syariah hanya bisa
tegak dalam sebuah sistem yang memang sudah ada tuntunannya dalam Islam yaitu
Khilafah Islamiyah. Inilah sebuah kepemimpinan umum kaum muslimin sedunia tanpa
ada sekat-sekat bernama nasionalisme.
Jilbab= simbol?
Ngomongin jilbab ternyata tidak sederhana ya?
Bukan melulu selembar kain penutup kepala yang saat ini lagi trend dipakai
perempuan. Aturan jilbab diturunkan bukan tanpa maksud. Di dalam QS al-Ahzab
ayat 59, Allah Swt. menyatakan bahwa agar para muslimah itu mudah dikenali dan
tidak diganggu. Para munafiqun biasanya berdalih, bahwa hukum berjilbab tidak
lagi wajib apabila muslimah tidak lagi mendapat gangguan. Nah…lho… (ngarang deh
lo!)
Di posisi inilah keimanan seorang muslim
teruji. Dalam melaksanakan syariat, bukan manfaat yang kita kejar. Tapi harus
murni karena taat dan tunduk pada Allah semata. Apabila ada manfaat di dalamnya,
itu hanya efek samping dan bukan tujuan utama. Yakinlah, bahwa syariat yang
berasal dari Allah Ta’ala
itu pasti membawa manfaat bagi manusia. Hanya karena kelemahan dan kebodohan
manusia saja, yang seringkali kita ini belum mampu menyibak makna di balik
perintah dan larangan Allah.
Jilbab memang sebuah simbol, bahwa seseorang
yang memakainya adalah perempuan muslim. Jilbab adalah simbol bahwa muslimah
yang memakainya itu (seharusnya) berbeda daripada yang tidak memakai. Aneh
banget bila berjilbab tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berjilbab
tapi mojok berduaan dan beraktivitas mesum, nauzhubillah. Jilbab sebagai simbol baju
takwa seorang muslimah menjadi runtuh. Sehingga tak heran banyak suara nyinyir
yang mengatakan ‘lebih baik
nggak usah berjilbab kalo kelakuan masih bejat.’
Wah….ini yang sering salah kaprah. Kalo ada
cewek berjilbab yang tingkah lakunya nggak senonoh, bukan jilbabnya yang salah.
Tapi pribadi cewek tersebut yang kudu dibenerin. Jangan malah, udah nggak
berjilbab, kelakuan rusak lagi. Watau, naudzhubillah. Jangan mau jadi tipe yang
ini. Harusnya tuh, berjilbab dan sholihah, itu cermin diri muslimah yang
sebenarnya.
Nah, bagi yang berjilbab tapi masih norak,
juga kudu nyadar bahwa jilbab yang tersandang itu mempunyai konsekuensi tertentu
pula. Jadi udah nggak bisa seenaknya sendiri ketawa ngakak di depan umum, terus
runtang-runtung sama cowok non mahrom. Jangan deh.
Jilbab memang simbol tapi esensinya juga kudu
harus dipahami. Jilbab adalah tabir bagi muslimah dari berbuat maksiat dan dosa.
Jilbab adalah sebuah identitas diri bahwa pemakainya juga harus sesuai dengan
apa yang dipakainya. Jilbab adalah satu langkah awal untuk siap menerima
aturan-aturan Allah lainnya termasuk dalam hal pergaulan, batasan dengan lawan
jenis, serta interaksi lainnya.
Jilbaber pejuang
Jilbab adalah wajib bagi yang merasa dan
mengaku dirinya perempuan muslim. Jilbab memang terkait erat dengan politik tapi
dalam makna yang benar. Meskipun terkait erat dengan politik, tidak berarti
bahwa seseorang yang sudah berjilbab maka sudah tentu ia setuju dan
memperjuangkan diterapkannya syariah. Dalam hal ini, sebagai muslimah kamu kudu
kritis dan selektif. Jangan mau diperdaya oleh petinggi-petinggi partai yang
berkoalisi demi empuknya kursi kekuasaan namun menjual idealisme penegakan
syariat Islam.
Terkait dengan hasil pemilu yang baru saja
berlalu, siapa pun pemenangnya, berjilbab atau pun tidak istri para pemimpin
tersebut, tetap hukum kufur aturannya. Jadi, nggak usah terlalu gembira deh
hanya karena partai islam tertentu berkoalisi dengan pemimpin yang menang
tersebut. Toh…keadaan tidak akan pernah berubah karena syariat masih saja
dianggap tidak perlu untuk ditegakkan.
Sistem demokrasi, berhala manusia saat ini,
masih saja tampil sebagai pemenang. Hal ini tak ada kaitannya dengan kemenangan
partai Islam tertentu, apalagi kemenangan hasil koalisi dengan partai sekular.
Jilbab benar-benar dianggap hanya sekadar selembar kain yang tak mempunyai makna
apa-apa. Naudzubillah. Bila
kepentingan duniawi telah mengalahkan cita-cita mulia partai dakwah, maka tunggu
saja ketika Allah akan memberikan keputusanNya.
So, para muslimah,
WAKE UP! Di balik jilbab yang kamu kenakan ada tanggung jawab besar untuk
membuat perubahan. Jangan mau terpedaya oleh slogan palsu yang mengatasnakaman
Islam. Gimana supaya tak gampang terpedaya? Belajar Islam yang kaafaah sebagai
sistem kehidupan yang utuh, bukan sepotong-sepotong. Bagaimana pun, harga sebuah
idealisme harusnya lebih mahal daripada kepentingan bagi-bagi kursi dalam
pemerintahan yang tidak islami. Cita-cita diterapkannya syariat Islam nggak
boleh luntur secuil pun dari perjuanganmu. Dan syariah Islam ini nggak mungkin
bisa diterapkan kecuali dalam sebuah sistem bernama Khilafah Islamiyah.
Jilbaber, ayo berjuang bersama. Bagi yang
belum berjilbab, ayo mulai saat ini tanamkan tekad untuk memulai sebuah
perubahan dalam dirimu. Di mana pun kamu berada dan bergerak, samakan langkah
agar tujuan lebih mudah teraih, insya Allah. Karena sungguh tak ada kemuliaan
kecuali dengan Islam, tak ada Islam tanpa syariah, tak ada syariah kecuali dalam
naungan daulah Khilafah Islamiyah. Semangat! [ria:
riafariana@yahoo.com]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar