Pernah mendapat pembagian kondom gratis?
Syukurlah kalo belum. Kalo pun di antara kamu sudah ada yang pernah didatangi
aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) tertentu dan mereka membagikan kondom
gratis, waspadalah! Karena ini adalah kampanye ajakan untuk menjadi penganut
paham free sex, meski
terselubung.
Awal-awalnya mereka ini menamakan dirinya
gerakan peduli AIDS dan memberi kondom gratis untuk menekan angka pengidap virus
HIV. Tapi sesungguhnya jika kamu jeli, pasti muncul pertanyaan: “ngapain juga
pake kondom untuk menghindari AIDS?” Sedangkan di banyak penelitian dibuktikan
bahwa besar virus HIV itu lebih kecil daripada pori-pori yang terdapat pada
kondom. Kondom (yang terbuat dari bahan lateks) terdapat pori-pori dengan
diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang. Sedangkan bila dalam keadaan
meregang lebarnya pori-pori mencapai 10 kali. Sementara virus HIV berdiameter
1/250 mikron. Jadi jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa lolos melalui
pori-pori kondom. Intinya, tak ada jaminan dengan memakai kondom, para pelaku
free sex bisa bebas dari
penyakit AIDS.
Ujung-ujungnya dari kampanye ini adalah
‘ajakan’ untuk sama-sama menikmati free sex tanpa takut terkena penyakit
kelamin. Apa coba makna dibagikannya kondom gratis kepada para pelajar kecuali
untuk digunakan? Alih-alih menyadarkan remaja untuk menghindari free sex, pembagian kondom gratis ini
malah semakin memicu daya ingin tahu remaja tentang seks itu sendiri. Apalagi
dikomporin dengan kondom di depan mata. Remaja lemah iman sudah pasti tergiur
ingin mencobanya. Naudzubillah.
So, untuk jaga-jaga
buat kamu semua, mending juga baca topik gaulislam edisi ini supaya tambah cerdas
dalam mengkritisi kampanye save sex dengan kondom. Lanjuuttt!
No free lunch
Maksudnya tidak ada barang gratis di dunia
kapitalis sekarang ini. Begitu juga dengan pembagian kondom yang katanya gratis
untuk mendapatkan seks yang aman. Pembagian ini pada permukaannya memang
terlihat gratis karena dibagikan secara cuma-cuma tanpa membayar serupiah pun.
Namun pada kenyataannya, bila kita jeli menyikapi situasi, kondom ini
sesungguhnya tidak gratis sama sekali.
Pelajar SMA dan para mahasiswa yang notabene
masih sangat muda dan polos, bisa terpancing rasa ingin tahunya dengan pembagian
kondom ini. Bukan mustahil mereka akan coba-coba menggunakannya dengan melakukan
sex before married alias
berzina. Bisa dengan (maaf) pelacur yang saat ini banting harga karena banyak
pesaing, atau bahkan dengan pacarnya sendiri.
Percobaan pertama memakai kondom gratisan.
Namun bila ketagihan, maka mau tidak mau mereka akan membeli kondom baru sebagai
gantinya. Modus ini mirip sekali dengan pemakaian narkoba yang memberi pancingan
gratis di awal pemakaian. Dan bila sudah ketagihan, maka si pengedar menangguk
untung dari si pecandu itu. Nggak bisa nggak, produsen kondomlah yang
diuntungkan dari kampanye save sex dengan kondom. Sangat khas ciri masyarakat kapitalis.
Itu di satu pihak. Di pihak lain, ada sesuatu
yang tersembunyi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar memberi keuntungan
kepada produsen kondom.
Yup, perusakan generasi, inilah tujuan
sebenarnya dari kampanye free sex dengan kondom. Entah para aktivis kampanye itu yang memang tidak
tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa pemakaian kondom sangatlah tidak efektif
untuk mencegah penyakit AIDS. So, masih selalu terbuka peluang bagi siapa pun yang melakukan
free sex, meski sudah
memakai kondom, untuk terjangkit penyakit yang hingga saat ini belum ada
penangkalnya itu.
Sobat muda, save
sex dengan kondom hanya sebuah tameng untuk ajakan
free sex alias berzina yang
mendapat legalitas atau ijin resmi. Dengan memakai kondom, seolah ingin
dikatakan “Jangan takut melakukan free sex. Nggak perlu nikah dulu untuk bisa melakukan seks. Nggak perlu
takut kena penyakit kelamin atau AIDS. Kan sudah pake kondom.”
Yang cowok jadi merasa tenang dan damai
melakukan seks bebas karena selain slogan save
sex tadi, mereka juga tidak takut pacarnya akan hamil
di luar nikah. Sedangkan bagi yang cewek juga sama saja. Kondom menjadi alat
pembenar untuk melakukan seks dengan pacar karena risiko hamil jadi kecil. Yang
terjadi adalah rusaknya generasi baik-baik menjadi sekumpulan generasi hobi
berzina di masyakarat yang memang sudah sakit ini. Naudzubillah.
Save sex with NO free sex
Bagi kamu yang masih usia belasan tahun saat
ini dan duduk di bangku SMP atau SMA, save sex yang baik dan benar adalah dengan
NO Free Sex. Belajar aja
yang rajin dan ngaji Islam dengan benar supaya kamu tahu bahayanya melakukan
free sex. Jangan pernah
tergiur nikmat sesaat tapi terlaknat sepanjang hayat. Rugi di dunia karena kamu
sudah merusak harga diri dan kesucianmu, merana di akhirat karena berzina
termasuk salah satu dari dosa besar yang ending-nya berakhir di neraka yang panas
mendidih. Hiiii
Bagi kamu yang sudah mahasiswa atau agak
gedean dikit, boleh tuh save sex dengan pasangan sah alias kudu married dulu. Selain nggak dosa,
save sex after married malah
berpahala. Dan bila kamu masih belum bisa melakoni save sex after married, maka solusinya
adalah berpuasa dulu dong. Bisa kan?
Selain peran serta kamu untuk bersikap
Save sex with NO free sex,
harusnya masih ada dua pihak lain yang kudu terlibat dalam hal ini. Masyarakat
sekitar nggak boleh cuek bebek dengan merebaknya kasus free sex. Mereka harus mempunyai kontrol
untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar ketika ada perilaku yang menyimpang di tengah-tengah masyarakat.
Nggak boleh lagi ada anggapan ‘yang penting bukan gue pelakunya’.
Pihak terakhir yang juga kudu turut andil
adalah negara. Ketika individu dan masyarakat sudah beritikad baik dengan
menolak free sex, negara
harus punya suara sama dalam hal ini. Sangat nggak ideal kalo ternyata negara
malah menyetujui dan melegalkan seks bebas dengan banyak bermunculannya
lokalisasi pelacuran. Bahkan nama lokalisasinya tenar hingga ke manca negara
sebagai salah satu daya tarik wisata. Walah, kacau kan?
Aneh sekali ketika sebagian pihak begitu
peduli dan prihatin dengan masa depan pemuda dan remaja, namun di pihak lain
sebagian orang malah ingin menghancurkannya. Sebagian pihak ini adalah
manusia-manusia yang ingin menyelamatkan moral dan keimanan remaja dengan
mengingatkan bahayanya free sex, sedangkan di pihak lain ada sekelompok orang yang sok menjadi
manusia dengan melegalkan perzinaan. Ironis!
Tak heran akhirnya bila remaja negeri ini
menjadi terombang-ambing di tengah dua kubu ini, antara penolak free sex versus penggiatnya. Parahnya,
ternyata banyak remaja yang ambil bagian menjadi pelaku utama dalam kasus ini.
Duh, menyedihkan banget deh!
Konspirasi 3 S
3 S = Sport, Song dan Sex. Tiga S inilah yang
jadi ujung tombak musuh-musuh Islam untuk merusak generasi muda. Slogan “3 S”
sudah terbukti berhasil melenakan pemuda-pemudi muslim.
Gelora jiwa muda yang masih fresh dan meledak-ledak menjadi sasaran
empuk untuk perusakan melalui jalur free
sex ini. Media cetak (majalah-majalah yang mengumbar
aurat) dan elektronik (sinetron-sinetron yang melulu tentang pacaran) menjadi
corong pembangkit nafsu seks remaja untuk muncul. Remaja jadi lebih
memperturutkan hawa nafsunya daripada mengejar prestasi setinggi-tingginya.
Musuh-musuh Islam tahu banget bahwa umat Islam
tidak bisa hanya diperangi dan dimusuhi secara fisik saja. Ada yang jauh lebih
efektif dari itu semua yaitu merusak kepribadian generasi muda muslim. Para
pembenci Islam ini nggak berani mengusik umat Islam Indonesia yang jumlahnya
terbesar sedunia secara langsung. Karena bila ini yang terjadi yaitu perang
secara terbuka, bisa dipastikan semangat jihad kaum muslimin akan muncul. Oleh
karena itu harus ada cara lain untuk merusak Islam tanpa disadari oleh umat
Islam sendiri. Yup, merusak moral generasi mudanya adalah kunci jawaban itu.
So, cepat sadar
wahai pemuda-pemudi muslim! Jangan mau kamu jadi sasaran empuk pengrusakan moral
generasi muslim melalui free sex. Yakin deh, hidup ini terlalu indah untuk dihabiskan dengan hanya
melulu mikirin urusan seks. Nggak banget gitu loh!
Sex after married
aja deh!
Islam nggak menghapuskan naluri seks (bahasa
kerennya sih gharizah an-nau’) dari dalam diri manusia. Yang ada
hanyalah Islam itu mengatur naluri seks di jalan yang baik dan benar, yaitu
setelah pernikahan. Untuk sementara ini, karena kamu masih berstatus pelajar,
maka belajar aja yang rajin demi kejayaan Islam. Yakin aja, jodohmu nggak akan
lari kemana meski saat ini kamu nggak pacaran apalagi sampe obral
seks.
Perbaiki kualitas dirimu, baik akhlak, iman
dan kecerdasanmu. Karena sebagai pemuda muslim, kamu kudu cerdas dan beriman.
Kalo semua ini sudah oke, dijamin deh, insya Allah bila saatnya tiba, kamu bisa
menikmati save sex yang
barokah dan berpahala.
Agar kamu nggak tergoda, jangan dekat-dekat
dengan semua hal yang akan membuatmu piktor (pikiran kotor). Jauhi gambar-gambar
atau tontonan porno dan jorok. Batasi pergaulan dengan teman-teman yang memberi
pengaruh jelek pada dirimu. Sebaliknya, makin dekati teman-temanmu yang sholih
bagi cowok dan sholihah bagi cewek agar ada yang selalu mengingatkan bila kamu
lalai. Persibuk dirimu dengan aktivitas positif semacam ikut karya ilmiah remaja
atau hal-hal bermanfaat lainnya. Dan yang utama, tingkatkan kedekatanmu dengan
Allah Swt. Bila kamu dekat denganNya, maka tak akan ada celah bagi kamu untuk
bermaksiat padaNya. Bukankah Dia Mahamelihat perbuatan hambaNya? Bukankah Dia
pasti mencatat seluruh perbuatan hamba-hambaNya?
Kalo kamu semua udah pada nyadar bahwa
save sex hanya dengan
NO free sex, dijamin musuh
Islam akan gigit jari melihat upaya merusak generasi muslim nggak berhasil.
Apalagi bila kamu sudahlah menjadi aktivis NO free
sex, ditambah lagi dengan aktivitas yang menyadarkan
teman-temanmu agar mereka semua pada setuju bersikap NO free sex. Pasti kamu bakal jadi pemuda
muslim yang TOP banget. Jadi, mulai saat ini sebarkan kesadaran baru ini kepada
semua orang bahwa untuk menolak ide kondomisasi adalah dengan SAVE SEX with NO Free SEX! Good luck
Tidak ada komentar:
Posting Komentar