Berdirinya sebuah pemerintahan, sebuah negara baru mutlak
memerlukan adanya kekuatan. sebab hanya kekuatanlah yang akan menyokong
tagaknya suatu sistem. Tanpa kekuatan, sebuah sistem hanyalah sebuah coretan-coretan
di atas ketas yang tidak berarti, sebuah hukum tanpa penegakan, dan pemaksaaan
tidaklah berarti. Oleh karena itu untuk mewujudkan negara baru, pemerintahan
baru yang mengganti sistem usang, diperlukan
kekuatan (power).
Pemilik asli power tersebut sejatinya adalah ummat. Ummatlah
yang memiliki kekuatan, ummatlah yang akan menentukan siapa yang berhak
memimpin, ummatlah yang menentukan tegak dan runtuhnya suatu pemerintahan atau
bahkan sebuah negara. Sebuah negara tanpa dukungan ummat hanyalah sebuah rezim
kediktatoran dari sekelompok orang. Sebuah rezim yang sebentar lagi akan
runtuh. Untuk mewujudkan revolusi melancarkan perubahan, maka dukungan dari
pemilik kekuatan real ini harus didapatkan.
Di dalam masyarakat, kekuatan tersebut tersebar ke dalam kelompok-kelompok.
Partai politik, organisasi masa, militer, suku-suku, pemimpin pondok pesantren,
paguyuban, baik secara kelompok maupun diwakili oleh pemimpin atau orang yang
dituakan atau tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat yang dijadikan rujukan dan ditaati
perkataanya. Perubahan pemikiran dan
cara pandang mereka (kelompok ini ) akan menentukan arah pergerakan dan
kemajuan revolusi. Sebab sejatinya merekalah yang mempunyai kekuatan tersebut.
Karena mereka yang ditaati dan didengarkan ucapannya oleh masyarakat atau paling tidak oleh banyak individu.
Ketika loyalitas mereka dialihkan dari sistem hidup lama yang terwujud dalam
pemerintahan, kepada sistem yang baru,
maka masyarakat dan pengikutnya mengikutinya.
Oleh sebab itu dukungan kelompok ini terhadap pemerintah
harus dihentikan, kepatuhan mereka terhadap pemerintah yang lama harus segera
dialihkan kepada pandangan kaum revolusioner. Kepada calon-calon pemimpin baru
kepada ideologi baru dan sistem yang akan diterapkan, sehingga loyalitas mereka
diberikan kepada ideologi kaum revolusioner. Oleh sebab itu maka, ide-ide
perubahan harus menyentuh golongan-golongan dan kelompok atau tokoh-tokoh
tesebut. Disamping masyarakat luas di tingkat grass root.
Kaum revolusioner terus melakukan upaya untuk memutuskan
dukungan masyarakat dari penguasa. Hal
tersebut dilakukan dengan penyadaran dan menampakan kebejatan sistem sekarang.
Untuk menampakkan kebejatan sistem sekarang, aktifitas membongkar kejahatannya,
membongkar persekongkolannya dengan musuh musuh Islam, membongkar kebusukan
kebusukanya dan segala kesesatan sistem dan pemerintahan yang ada harus
dilakukan. Melawan propaganda -
propaganda sesat dari penguasa, mengcounter opini yang dilontarkan penguasa,
meyakinkan kepada masyarakat akan kehinaan hidup jika mendukung penguasa, dan
kemuliaan hidup di bawah naungan Islam. Diskusi baik secara publik, maupun
idividu terus dilakukan, perbincangan di warung, di tempat kerja, di pinggir
jalan, di mall, di warung indomi, di pasar, di dalam angkot harus terus dilakukan
oleh kaum revolusioner dan seluruh masyarakat. Tablik akbar, seminar, dan
pembagian leaflet serta selebaran yang berisi tentang kebenaran Islam dan
kesesatan kapitalisme demokrasi, sosialisme, dan ide-ide yang bukan berasal
dari Islam, yang sekarang diterapkan oleh penguasa. Mengkritik
kebijakan-kebijakan salah dari penguasa dilawan dengan konsepsi unggul milik
Islam.
Hal ini dilakukan secara meluas di seluruh wilayah kekuasa`n
penguasa lama, dan dilakukan terus menerus sehingga masyarakat atau pemilik kekuatan
resmi tersadarkan dan tercerahkan, akhirnya mengalihkan kepatuhan dan
loyalitasnya dari penguasa lama ke pada idoelogi baru beserta sistemnya.
Melawan pemerintah, dan mewujudkan pembangkangan massal. Pada tahap ini kondisi
real penguasa sebenarnya sudah jatuh. Sebab mereka sudah tidak punya power
lagi, tidak punya kekuatan dan penyokongnya. Kejatuhannya tinggal menunggu
waktu, kemudian digantikan oleh sistem yang baru , sistem yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar