Valentine's Day is
so sweet, itu anggapan dari beberapa kalangan "young guns" di
metropolis. Demi kekasih, katanya, hingga mereka berani merogoh kocek untuk
membelikan hadiah buat sang doi, supaya suasananya lebih romantis.
Suatu peringatan
pasti ada sejarah 'n latar belakangnya, begitu pula ama yang namanya valentine
day itu, sejarahnya pasti ada. Trus,…apa hubungannya diceritain ama kita-kita!
Ya,..Islamuda tau koq kalo itu nggak bakal keluar di ulangan sejarah sobat
muslim, cuman yang kayak ginian ini perlu dilurusin supaya sobat semua tau
kenapa perayaan ini disebut budaya sampah, meski sebagian besar penikmat hari
valentine nggak ngurus dengan yang namanya sejarah valentine day, katanya EGP
(Emang Gue Pikirin), pokoke valentine TOP BGT SKL (top banget sekali). Padahal
kalau mereka tahu (khususnya yang muslim) asal muasal cerita velentine day,
bakal terbelalak matanya, kalau tidak terbelalak ya harus terbelalak (yee ...
maksa).
Konon si empunya
cerita, valentine day diperingati untuk mengenang jasa seorang pendeta kristen
namanya St. Valentino tapi ada yang menceritakan St.
Valentine beda huruf terakhirnya aja, yang hidup di Roma pada masa pemerintahan
Kaisar Cladius II (268-270 M). Begini ceritanya, orang-orang Romawi merayakan
acara untuk memperingati suatu hari yang menurut mereka bersejarah pada tanggal
15 Februari, mereka menamakannya Lupercalia untuk memperingati Juno (Dewa
wanita dan perkawinan) serta Pan (Dewa dari alam ini).
Acara ini berisi
pesta muda-mudi yang memilih pasangannya masing-masing dengan menuliskan nama
yang dimasukkan dalam jambangan kemudian diundi. Pasangan itu saling tukar kado
sebagai pernyataan cinta kasih, acara dilanjutkan dari pesta dansa-dansi sampai
pesta seks. Setelah penyebaran Kristen para pemuka gereja mencoba memberikan
pengertian ajaran Kristen terhadap perayaan para pemuja berhala itu. Pada tahun
496 Masehi Paus Gelasius (Pope Gelagius) mengganti perayaan itu menjadi Saint
Valentine's Day dan dipindah tanggalnya menjadi 14 Februari yang diperingati
sebagai penghormatan bagi seorang pendeta yang dihukum mati pada tanggal
tersebut.
Dalam sejarah
Velentine para ahli sejarah tidak setuju dengan adanya upaya untuk mengaitkan
hal itu dengan kematian St. Valentine yang
dipenggal kepalanya di Palatine, tapi sejarah lain mengatakan acara valentine
dikaitkan dengan St. Valentine yang lain, yang dikejar-kejar karena memasukkan
suatu keluarga Romawi ke dalam Kristen, kemudian dia dipancung di Roma sekitar
tahun 273 Masehi. Walhasil tidak sedikit versi cerita valentine day itu, tapi
hasil akhirnya sama bahwa sejarah valentine day hanya rekaan dan bisa jadi
bohong (terbelalak khan!).
Memperingatinya
? No way !!!
Okey, itulah cerita
betapa semrawutnya asal muasal Valentine day, kalau kamu udah tahu betapa tidak
jelas asalnya, lalu mengapa musti sibuk-sibuk memperingati segala. Memperingati
valentine day dengan cara apapun dan dengan siapapun tidak ada sangkut pautnya
dengan ajaran Islam dan kalau kita yang ngaku muslim bila ikut memperingatinya
tidak bedanya kita dengan orang be-o-de-o penyembah berhala Juno dan Pan.
Lalu bagaimana
seharusnya kita bersikap terhadap valentine day? (Makanya ngaji, biar tahu
hukumnya valentine day). Sebenarnya seorang muslim segala perbuatannya telah
mempunyai hukum dan wajib baginya untuk mengetahui hukum dari perbuatan dia
sebelum perbuatan itu dilakukannya. Begitu pula untuk berkasih sayang versi
valentine day harus lebih dahulu diketahui hukumnya, lalu diputuskan untuk
dilaksanakan atau tidak.
Di kalangan para
ulama fiqih telah ada suatu kaidah ushul fiqih yang menyatakan
"Asal suatu perbuatan adalah terikat
dengan hukum syariat Islam"
Dimana kaidah itu
diambil dari ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits-hadits yang telah mengatur perbuatan
manusia secara paripurna, tidak meleset sedikitpun dari incaran syariat Islam
meski perbuatan manusia dilakukan di jaman yang akan datang yang tidak ada pada
jaman Rasulullah, salah satu contohnya adalah valentine day itu, Son.
Ketika kita
baca-baca firman Allah dalam Al-Qur'an jelas sudah bahwa Allah memberi
rambu-rambu kepada kita, maka jangan sekali-kali kita melanggar rambu-rambu
tersebut kalau kamu tidak ingin mendapat adzab fid dunia wal akhirat misalnya
firman Allah yang ini : "Dan
putuskanlah perkara diantara mereka (kaum muslimin), dengan apa yang telah
diturunkan oleh Allah kepadamu, jangan kamu mengikuti hawa nafsu mereka
(orang-orang kafir) setelah jelas datang peringatan dari Allah" (TQS.
al-Maidah 48)
atau firman-Nya
yang satu ini : " .... dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan
mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau demikian termasuk
golongan orang-orang dhalim" (TQS.
al-Baqarah 145)
Tapi mas, kita khan
cuma kebetulan/insident (bukan merk pasta gigi lho) aja ikutan valentine day.
Kita khan nggak meyakini apalagi mengimani sejarahnya. Ya,… OK kalo' kamu
ngomong gitu sih…. Memang tidak ada secara langsung ayat atau hadits
menjelaskan kesalahan atau kebobrokan valentine day tapi Allah dan Rasul-Nya
melarang suatu perbuatan tidak harus diperinci atau dijelaskan satu per satu
perbuatan yang terkategori terlarang, cukup dengan makna ekplisit disampaikan
dalam Al-Qur'an dan Hadits. Larangan merayakan valentine day terkategori dalam
firman Allah dan sabda Rasul-Nya berikut ini misalnya Sabda Rasulullah
Saw. Janganlah kalian menyerupai
orang-orang Yahudi dan Nasrani .." (HR. Tirmidzi)
"Tidak termasuk golonganku orang-orang
yang menyerupai (tingkah laku dan sikapnya) umat selain umat Islam" (HR.
Tirmidzi)
"Siapa saja yang menyerupai suatu kaum
maka mereka termasuk golongan tersebut" (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Jika kamu mafhum
(paham) dengan hadits-hadits diatas, maka sudah barang tentu konsekuensi dari
pemahaman adalah meninggalkan segala aktivitas yang termasuk dalam larangan
meniru atau menyerupai orang kafir (Yahudi, Nasrani, Majusi dll) tanpa bertanya
lagi apa manfaat (maslahat) dari meninggalkan larangan itu, sebab Allah Maha
Mengetahui termasuk tentang kemanfaatan dari syariat yang dibuat-Nya.
Jadi alasan kamu
tadi yang katanya cuman "kut-ikutan", nggak masuk akal blas… Rek!
Sama seperti kamu pergi di hari Minggu, lalu ikut kebaktian di gereja, kemudian
pulang dan ngomong, "Aku tadi cuma ikut-ikutan koq, aku nggak
meyakininya!" Padahal semua orang tahu, siapa yang bakal percaya sama
kamu? Sedangkan Hadits tadi sudah menjelaskan secara jelas. Amit-amit jabang
baby,. kacihan dech loe….
Valentine day,
salah satu dari larangan Allah dan Rasul-Nya bagi ummat islam untuk
mengikutinya, baik itu tua, muda, anak-anak, laki, perempuan kalau menyatakan
dirinya Islam, asal jangan Islam di KTP doang, harus meninggalkan aktivitas
valentine day. Ingat sabda Rasulullah yang artinya : "Barang siapa
melakukan suatu aktivitas, tidak berdasarkan pada perintahku (Al-Qur'an dan Hadits)
maka aktivitas tersebut tertolak" (HR. Ahmad)
So, tidaklah umat
Islam kalau kamu masih merayakan valentine day, meski kamu sholat sampai jidat
kamu hitem, meski kamu puasa sampai badan kamu lunglit (balung-kulit) kalau
kamu masih merayakan valentine day sama halnya dengan mengisi air di tong yang
bocor, hasilnya? Nol. Sebab acara ritual itu berasal dari umat yang Aqidahnya
rusak seperti di ceritakan di atas, kalau kita mengikutinya sama rusaknyalah
kita dengan mereka, sama bodolah kita dengan mereka, sama jahilnya kita dengan
mereka. Lalu dimanakah kemuliaan Islam itu, kalau Allah mengatakan dalam
firman-Nya : "Sesungguhnya dien
(agama) yang diridhloi oleh Allah hanya Islam" (TQS. ali-Imron 19)
atau Sabda
Rasulullah Saw. : "Islam itu
tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya" (HR. Muslim)
Apa firman Allah
dan Hadits Nabi itu hanya isapan jempol? Tentu tidak. Kemuliaan Islam hanya
bisa ditunjukkan apabila syariat Islam ditegakkan di muka bumi, jikalau banyak
kaum muslimin yang mengikuti cara hidup, gaya hidup orang kafir macam valentine
day artinya banyak hukum Islam yang tidak diterapkan dalam kehidupan maka sudah
barang tentu, Al-Qur'an dan Hadits hanya menjadi sebuah bacaan yang indah
dibaca dan merdu untuk dh dengar sedangkan penerapannya dalam kehidupan, kosong
mlompong. Dan sekarang kita sedang diperingatkan (tadzkiroh) oleh Allah, karena
nihilnya umat ini melaksanakan syariat Islam, atau melaksanakan tapi hanya
sebagian yang tidak menyinggung perasaan orang lain, yang enak bagi dirinya
sendiri, yang menurutnya bermanfaat bagi orang banyak. Salah satu peringatan
Allah itu sekarang sedang kita nikmati, krisis moneter yang berlanjut kepada
krisis-krisis lainnya yang tidak ada ujungnya.
Hendaknyalah
kita renungkan perkataan sosiolog Ibnu Khaldun yang menyatakan
"Yang kalah
cenderung mengekor yang menang, dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata
yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk di sini
adalah mengikuti adat istiadat mereka ........". Hal itu selaras dengan
apa yang telah di sabdakan Nabi : "Tidak akan kiamat sebelum umatku
mengikuti apa-apa yang dilakukan bangsa-bangsa terdahulu, selangkah demi
selangkah, sehasta demi sehasta". .............. Diantara para sahabat ada
yang bertanya "Ya, Rasululah apakah yang dimaksud (di sini) adalah
bangsa-bangsa Yahudi dan Nasrani ?" Rasulullah menjawab "Siapa lagi
(kalau bukan mereka) (HR. Bukhori)
Demikianlah siasat
orang Yahudi dan Nasrani bahwa mereka punya rencana jahat terhadap umat Islam,
dengan berkedok modernisasi mereka mengelabui umat Islam, oleh karena itu
mengikuti valentine day sama halnya dengan merelakan diri kita duduk bersama
mereka di api neraka, Naudzubillah min dzalik. Hanya orang be-o-de-o saja yang
nggak bisa bedakan neraka dan surga, so janganlah menjadi generasi be-o-de-o,
generasi millenium bukan generasi minim aqidah, tapi generasi millenium adalah
generasi yang menikmati millenium tapi mereka tidak lupa bahwa way of life
mereka berbeda dengan orang kafir, itu yang harus disadari.
Valentine,
Kenikmatan Sesaat yang Sesat
Menikmati valentine
day sama halnya dengan mencicipi api neraka, kalau mencicipi es dawet sih,
masih enak, tapi kalau sudah mencicipi api apalagi ditambah api neraka, bukan
hanya bibir yang kebakaran tapi ubun-ubun bisa mendidih, ngeri khan? makanya,
kenikmatan sesaat dengan valentine day belum tentu menyelamatkan kita di
akhirat, tapi dengan kenikmatan yang dilandasi Aqidah Islam yang benar dan
tuntas akan membawa sebuah kebahagian yang hakiki.
Wallahu 'alam bishowab. (LBR/DY)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar