By :
Anak Langit Muara Sakti
Islam,
menggambarkan cita-cita kemanusiaan sungguh berbeda dengan barat. Dalam
filsafat Barat, hampir selalu menerjemahkan kemajuan dengan membebaskan diri
dari alam pikiran agama; meninggalkan kitab suci dan menanggalkan referensi
transedental. Dan lalu, mereka
kehilangan petunjuk ---- dan terbelenggu. Terbelenggu dalam domain filsafat:
hegemoni pemikiran. Di kalangan Marxisme, misalnya mereka terpuruk dalam
belenggu yang disebut diterminisme. Manusia tidak sanggup merdeka : karena
pemikirannya, keberadaan sosialnya, dan bahkan keberadaan eksistensialnya
ditentukan oleh posisi ekonomi, oleh cara produksinya. Manusia --- dalam
terminologi Marxisme --- samasekali tidak memiliki orientasi transedental. Ia
adalah produk dari masyarakatnya dan formasi sosial masyarakatlah yang
menentukan kesadarannya.
Islam,
dengan misinya yang paling besar, adalah pembebasan; --- adalah “membebaskan”.
Dalam konteks modern, berarti Islam harus membebaskan manusia dari kungkungan
pemikiran dan filsafat Barat yang kacau, muram, menyedihkan, bejat dan keparat.
Pikiran Barat menganggap manusia tidak merdeka dan hidup dalam absurditas,
tanpa nilai, tanpa apa-apa, alias kosong.
Demikianlah
hasil dari proyek besar Barat : Modernitas. Gerakan yang ingin membebaskan
manusia dari mitos-mitos. Tetapi, ternyata ada masalah baru, semangat untuk
membebaskan manusia dari belenggu mitos malah menyebabkan agnotisme terhadap
agama, yang ujung-ujungnya sekulerisme, chaos, dan lahirlah nuansa kehidupan
yang tidak harmoni.
Refleksi
dari budaya dan cita-cita Barat ini akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Melalui
pendidikan, citarasa dan gaya hidup, akhirnya
sampai ke indonesia, sampai
ke Bogor,
sampai ke Drabas (tempat tinggal saya). ----- menyedihkan banget.
Oleh
sebab itu, ayo! Kang Wahyu, Kang Mulyana, Kang Pardimin, Kang Ma'ruf, Kang Pul
(anggota tidak resmi Komunitas Kiri Kere) bangkit bersama Islam, melakukan
revolusi untuk mengenyahkan semua itu, setan-setan Barat, roh-roh gentayangan
Barat --- suatu revolusi pembebasan. Dengan visi ideologis semacam ini, Islam
sesungguhnya menyediakan basis filsafat untuk mengisi kehampaan spiritual
produk modernitas --- dunia modern industrial. Sungguh ! kini, Islam sudah
saatnya tampil kembali untuk memimpin peradaban dan menyelamatkan manusia dari
belenggu Barat dan dunia modern.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar