by : syarifah tsabitah
Islam, menggambarkan cita-cita
kemanusiaan sungguh berbeda dengan barat. Dalam filsafat Barat, hampir selalu
menerjemahkan kemajuan dengan membebaskan diri dari alam pikiran agama;
meninggalkan kitab suci dan menanggalkan referensi transedental. Dan lalu, mereka kehilangan petunjuk ---- dan
terbelenggu. Terbelenggu dalam domain filsafat: hegemoni pemikiran. Di kalangan
Marxisme, misalnya mereka terpuruk dalam belenggu yang disebut diterminisme. Manusia
tidak sanggup merdeka : karena pemikirannya, keberadaan sosialnya, dan bahkan
keberadaan eksistensialnya ditentukan oleh posisi ekonomi, oleh cara
produksinya. Manusia --- dalam terminologi Marxisme --- samasekali tidak
memiliki orientasi transedental. Ia adalah produk dari masyarakatnya dan
formasi sosial masyarakatlah yang menentukan kesadarannya.
Islam,
dengan misinya yang paling besar, adalah pembebasan; --- adalah “membebaskan”.
Dalam konteks modern, berarti Islam harus membebaskan manusia dari kungkungan
pemikiran dan filsafat Barat yang kacau, muram, menyedihkan, bejat dan keparat.
Pikiran Barat menganggap manusia tidak merdeka dan hidup dalam absurditas,
tanpa nilai, tanpa apa-apa, alias kosong.
Demikianlah hasil dari proyek besar
Barat : Modernitas. Gerakan yang ingin membebaskan manusia dari mitos-mitos.
Tetapi, ternyata ada masalah baru, semangat untuk membebaskan manusia dari
belenggu mitos malah menyebabkan agnotisme terhadap agama, yang ujung-ujungnya
sekulerisme, chaos, dan lahirlah nuansa kehidupan yang tidak harmoni.
Refleksi
dari budaya dan cita-cita Barat ini akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Melalui
pendidikan, citarasa dan gaya hidup, akhirnya
sampai ke indonesia, sampai
ke Bogor,
sampai ke Drabas (tempat tinggal saya). ----- menyedihkan banget.
Oleh sebab
itu, ayo! mbak yulia, dek indah, dek via, dek mikha dan dek orin (anggota tidak resmi Komunitas Kiri Kere) bangkit bersama Islam, melakukan
revolusi untuk mengenyahkan semua itu, setan-setan Barat, roh-roh gentayangan
Barat --- suatu revolusi pembebasan. Dengan visi ideologis semacam ini, Islam
sesungguhnya menyediakan basis filsafat untuk mengisi kehampaan spiritual
produk modernitas --- dunia modern industrial. Sungguh ! kini, Islam sudah
saatnya tampil kembali untuk memimpin peradaban dan menyelamatkan manusia dari
belenggu Barat dan dunia modern.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar