Jadwal kerja gue yang padet akhir-akhir ini
bikin gue sulit ngelakuin kegiatan-kegiatan lain. Apalagi kemaren-kemaren gue
sempet terserang pegal-linu akhirnya coba-coba mampir dulu deh ke toko jamu beli
jamu pegel-linu. Tapi deadline tanggal 16 ini harus gue selesein secepatnya
supaya nggak ada tanggungan lagi. Untungnya tadi ada temen yang bersedia
meminjamkan laptopnya selama 1 hari setidaknya gue tertolong lah buat nyelesein
tugas ini. Kan enak tuh malem hari ngetik di beranda kontrakan sambil nungguin
air mendidih buat nyeduh kopi yang selalu siap menemani. Oh ya gue baru inget
bahwa Senin ini adalah tanggal 17 Agustus katanya sih peringatan hari
kemerdekaan.
BTW, elo tahu nggak udah puluhan tahun lho
klaim Indonesia ini sudah merdeka sampe temen gue pun yah sebut saja begeng
(bukan nama sebenarnya), waktu gue tanya Indonesia merdeka udah berapa tahun eh
dia menjawab “lupa”. Nah lho begeng aja udah lupa berarti udah lama dong atau
dia belum ngerasain kemerdekaan yang digembar-gemborkan itu. Hehehe…
Arti kemerdekaan
Merdeka menurut bahasa adalah bebas.
So buat elo yang belum bebas
alias masih ngerasa dijajah berarti elo belum merdeka sepenuhnya ok? Setuju
nggak? Nah elo tahu nggak sumber penjajahan itu dari mana mengapa seorang
manusia bisa atau tega menjajah manusia yang lain. Biang keladi semua itu adalah
hawa nafsu manusia yang tak terkontrol dan tak pernah habis. Apabila semua
manusia bisa mengontrol hawa nafsunya mungkin penjajahan nggak akan ada di dunia
ini.
Terus, tentunya harus ada peraturan juga dong
untuk mengontrol hawa nafsu manusia yang liar Oya, peraturan yang gue maksud di
sini bukanlah peraturan yang dibuat oleh manusia karena peraturan yang dibuat
manusia itu nggak menjamin suci dari hawa nafsu dan penjajahan. Contohnya
demokrasi yang ada sekarang ini adalah satu contoh penjajahan juga tuh karena
dalam demokrasi itu jumlah yang banyak menjajah jumlah yang sedikit jadi kita
nggak bisa berharap keadilan dan kemerdekaan dari sebuah demokrasi. Kalo kata
Mang Jorge Luis Borges seorang sastrawan Argentina, demokrasi adalah sebuah
penyalahgunaan statistik. Yup, ada benarnya juga kata si doi demokrasi itu nggak
peduli mana yang benar mana yang salah semua diambil berdasarkan voting padahal
dalam al-Quran sendiri dengan jelas tercantum.
Allah Swt. Berfirman (yang artinya):
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di
muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak
lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah
berdusta (terhadap Allah). ( QS al-An’am [6]: 116)
Jadi apakah ini yang disebut merdeka? Nggak
dong merdeka yang sesungguhnya adalah ketika kita sudah nggak dijajah hawa
nafsu. Gue nguping dari guru ngaji gue, bahwa Rasulullah saw. bersabda “Tidak
beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang
aku bawa” Hmm.. gue seneng dapat info kayak gini.
Ah, nyeruput kopi dulu! Pletak!
Negara kita belum merdeka, Bung!
Negara yang merdeka adalah negara yang
benar-benar berdikari mampu menangani segala persoalan dalam dan luar negeri dan
rakyatnya merasa aman dan tenteram. Terus gue mau nanya neh ke elo semua Bro,
tapi jawab yang jujur ya? Apakah elo semua ngerasa aman ketika negara lain turut
campur dalam kepentingan negara ini mulai dari soal ketahanan negara, ekonomi,
dan masalah-masalah lainnya?
Contohnya nih aset-aset negara yang penting
seperti tambang emas dan minyak pun dikuasai oleh orang asing inilah yang
membuat rakyat Indonesia masih banyak yang sengsara kalo menurut istilah yang
diajarkan oleh guru gue waktu SD tuh seperti tikus yang mati di lumbung padi.
Nah begitulah keadaan negara ini. Padahal kalo dalam Islam Rasulullah saw.
bersabda, ”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air,
padang rumput, dan api. Harga (menjual-belikannya) adalah haram” (HR Abu Dawud)
Jadi air (laut, sungai, danau, dll), padang
rumput (hutan), dan api (bahan bakar minyak, batu bara, gas, listrik, dan sumber
energi lainnya) merupakan milik bersama. Karenanya, termasuk dalam pemilikan
umum dan ridak boleh dikuasai secara pribadi, atau bahasa kerennya tidak boleh
“diprivatisasi” sampai tambang garam pun pernah diambil kembali lho oleh
Rasulullah karena menyangkut kepentingan umat
Pokoknya sekarang ini nggak ada deh
kepentingan yang berpihak pada rakyat semuanya dikapitalisasi bahkan sampe
tenaga buruh pun dengan adanya outsourcing bisa dijadikan penghasilan atau pemerasan. Misalnya dengan adanya
outsourcing otomatis para
pemilik perusahaan bisa lepas tanggung jawab dari para buruh. Ah, udah mah jadi
buruh, dipotong gajinya sama outsourcing (apalagi kalo dipotongnya 50 sampe 75 persen ya) hehehe bisa
bangkrut tuh buruh diperes terus, ditelantarkan pula kalo udah tua tanpa dapet
uang pesangon. Wah lengkap sudah deh penderitaan rakyat padahal kan katanya
ekonomi kerakyatan tapi kok berpihaknya ke kapitalisme. Jadi ada yang salah tuh
dengan sistem yang kita anut. Iya kan?
Untuk hal ekonomi malah bank-bank di Indonesia
pun masih menggunakan sistem riba yaitu sebuah transaksi yang dicirikan dengan
suatu pernyataan ’Beri saya
hutang dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya). Padahal selain sistem
riba itu dilarang oleh Islam, sistem ini juga nggak kenal belas kasihan. Ya
iyalah namanya orang yang berhutang itu kan adalah orang kesusahan bukannya
ditolong dengan ikhlas malah dimakan juga. Ca’ur banget kan? Allah Swt. berfirman
(yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada
Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Ali
Imran [3]: 130)
Juga dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman
(yang artiya): “Orang-orang yang makan (mengambil)
riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan
lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan
riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus
berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu
(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang
kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka
kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah
tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat
dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba
(yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak
mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu
pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.Dan jika (orang
yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia
berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik
bagimu, jika kamu mengetahui.Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi
pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian
masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah
dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS al-Baqarah [2]: 275-281)
Nah, serem kan?
Dalam sistem pendidikan pun Islam telah
mengaturnya karena untuk mewujudkan SDM yang baik dibutuhkan pendidikan yang
baik juga bahkan khalifah umar bin khatab pun pernah memberikan gaji kepada guru
TK sebesar 15 dinar emas (1 dinar emas setara dengan 4,25 gram emas). Nah, elo
itung sendiri dah berapa duit tuh?
Oya, karena begitu pentingnya pendidikan maka
pendidikan pun digratiskan nggak ada anak yang putus sekolah karena kesulitan
biaya atau kalau misalkan pendidikan benar-benar terpenuhi maka nggak mungkin
kan negara ini menjadi negara yang mempunyai SDM dengan peringkat di bawah
100.
Itulah ruginya jika kita tidak melaksanakan
Islam secara keseluruhan. Saat ini, yang terjadi adalah berlomba-lomba mencari
kekayaan dengan jalan apapun nggak peduli keadaan orang sekitar. Nama kerennya
sih hedonisme. Elo bisa bayangin kan kalo misalkan semua orang pada begini
otomatis deh generasi kita dan generasi seterusnya akan menjadi lebih
bobrok.
Udah keliatan kan contohnya sekarang-sekarang
ini karena kurangnya pendidikan agama banyak tuh pemuda-pemudi yang makin kacau
aja kehidupannya. Mereksa terjerumus dalam free sex, ngedugem, narkoba, doyan
miras, tindak kriminal seperti tawuran, dan budaya-budaya negatif dari luar pun
lebih mudah untuk masuk dan menjadi bagian dari kehidupan anak muda sekarang
ini. Contohnya makin banyak para pemudi yang menanggalkan jilbab dan kerudungnya
dengan alasan udah nggak jaman atau ngikutin tren para aktris Hollywood gitu
lah, tapi tetep aja makannya masih tempe. Hahaha.. mungkin cuma tempe aja yang
asli Indonesia dan masih bisa bertahan.
Terus nih, yang bikin gue geleng-geleng kepala
anehnya ada juga sesuatu yang dilabeli Islam tapi amat jauh dari nilai-nilai
keislaman seperti penayangan “film religi” tapi masih ada juga adegan yang nggak
banget deh seperti berpegangan tangan dan lain-lain. Katanya film religi tapi
kok gitu yah? Ah, namanya juga sekadar label kok!
Ini bukti yang kentara banget, bahwa kita
belum merdeka. Karena masih dijajah oleh budaya dari luar. Sebab, hakikat
kemerdekaan itu, adalah terbebasnya dari penghambaan terhadap hawa nafsu.
Terbebasnya dari ikatan dengan aturan selain Islam. Kita hanya menyerahkan diri
kepada Allah Swt. saja. Bukan kepada yang lain. Maka sistem hukum yang wajib
diikutin adalah sistem Islam. Bukan sistem yang lain seperti demokrasi,
kapitalisme, nasionalisme, sekularisme, sosialisme, komunisme, termasuk
turunannya sekularisme yakni permisifisme, hedonisme dan sejenisnya (lha, banyak
banget ya?)
Solusinya neh!
Nah solusi dari kekacauan ini adalah dengan
menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ingat nih Bbro en Sis. Islam itu
bukan sekadar agama ritual saja. Islam tuh adalah agama yang paling lengkap.
Semua peraturan untuk kemaslahatan manusia ada semua di situ dan udah tercantum
dalam satu kitab yang bernama al-Quran. Al-Quran adalah kalamullah, yakni ucapan
Allah Swt yang telah menciptakan manusia dan otomatis Dialah yang paling
mengerti akan kebutuhan manusia. Catet ya!
Maka, sebagai generasi muda elo jangan malu
untuk mengkaji Islam dan jadilah insan yang bertakwa. Jadi kalo suatu saat ada
yang bilang syariat Islam tidak pas untuk diterapkan di negara ini elo nggak
langsung percaya gitu aja. Emangnya siapa sih yang paling mengerti manusia dia
atau Allah Swt.?
Allah Swt. berfirman (yang
artinya): “Maka patutkah aku mencari hakim selain
daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al-Quran) kepadamu
dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka,
mereka mengetahui bahwa al-Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya.
Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah
kalimat Tuhanmu (al-Quran, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang
dapat mengubah-ubah kalimat-kalimatNya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (QS al-An’am [6]: 114-115)
Dijamin deh kalo negara ini bener-bener
mengikuti aturan dari Allah pasti elo semua (dan kita semua) nggak akan
ngerasain penjajahan dalam bentuk apapun. Kalo sekarang? Hmm.. secara fisik di
negeri ini nggak ada penjajahan. Tapi secara ekonomi, politik, budaya,
pendidikan, hukum, sosial kita masih terjajah oleh aturan selain Islam.
So, kalo pengen merdeka,
campakkan sistem selain Islam dan nggak usah dijadikan aturan hidup kita lagi.
Ya, cuma Islam yang bisa menjadikan kehidupan ini lebih baik. Jadikan Islam
sebagai jalan hidup kita semua, dalam aktivitas individu, bermasyarakat dan
bernegara. Itu semua bakalan bikin kita makin yakin dan bangga deh dengan
keislaman kita, sehingga berani teriak lantang: MERDEKA!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar